Analis: Sang Raja Bisnis Yahudi Dalangi “Revolusi Warna” Menentang Trump

7e1b4e4f-d58a-4693-b568-5f1c1628170d.jpg

Senin, 14 November 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, SOUTH BEND – Analis politik Amerika mengatakan bahwa Raja bisnis Yahudi, George Soros, telah mengatur sebuah “revolusi warna” untuk menentang Presiden terpilih AS, Donald Trump. Analis itu menunjuk pada protes nasional anti-Trump sebagai bukti.

E. Michael Jones, editor Majalah Culture Wars, mengatakan kepada Press TV pada hari Minggu (13/11) bahwa kerusuhan menyusul kemenangan telak Trump atas rival Demokratnya Hillary Clinton pada hari Selasa (8/11), secara hati-hati telah direncanakan oleh Soros.

Dia juga berpendapat bahwa jajak pendapat sengaja digunakan sebagai alat untuk melemahkan presiden Trump, sebagaimana hal serupa telah mereka lakukan untuk melawannya sebelum pemilu.

Menurut sebuah survei ABC News / Washington Post yang dirilis pada hari Minggu kemarin, 26 persen orang Amerika berpikir kemenangan pemilu Trump atas Clinton tidak sah.

“Apa yang kita lihat di sini sekarang adalah George Soros sekali lagi melakukan intervensi dalam politik internal Amerika Serikat dengan menciptakan sebuah revolusi warna,” kata Jones.

Analis itu mengatakan bahwa Hillary dan suaminya, mantan presiden Bill Clinton, mengenakan pakaian berwarna ungu saat pidato mantan sekretaris konsesi, yang menunjukkan warna revolusi.

Jones mengatakan organisasi seperti MoveOn, yang mendorong orang-orang untuk melawan Trump, dibiayai oleh Soros untuk menjalankan agendanya.

Outlet media seperti Fox News yang condong pada partai Republik menyatakan bahwa MoveOn jauh lebih besar daripada apa yang tampak dan bahwa organisasi itu sejatinya “memiliki” Partai Demokrat.

Selama pemilihan presiden tahun 2004, Soros memberikan hampir 1,5 juta dolar untuk MoveOn.org Voter Fund.

Pada siklus tahun ini, MoveOn mengeluarkan siaran pers setelah pemilu Trump, mengundang warga Amerika untuk menyelenggarakan demonstrasi “damai” di seluruh AS.

“Demo damai” akan menegaskan penolakan terhadap kefanatikan, xenophobia, Islamofobia, dan kebencian terhadap wanita Donald Trump dan menunjukkan tekad kita untuk berjuang bersama-sama demi Amerika,” demikian bunyi pernyataan organisasi itu.

MoveOn bahkan membual telah menciptakan “lebih dari 200” pertemuan dalam waktu dua jam sejak seruan itu diluncurkan.

Ribuan pengunjuk rasa telah mengadakan aksi unjuk rasa di berbagai bagian AS, mendesak Trump untuk mengundurkan diri karena janji kampanye rasisnya dianggap sebagai sumber pemecah belah.

Kota-kota utama AS seperti Chicago, New York City, Los Angeles, Boston, Portland dan beberapa kota lainnya telah melihat konfrontasi kekerasan antara demonstran dan pasukan keamanan, dengan lebih dari 200 orang ditangkap di Los Angeles saja.

Menurut email yang bocordan dirilis oleh kelompok anti-kerahasiaan WikiLeaks, pembantu Hillary Clinton John Podesta telah menginstruksikan Soros pada tahun 2008 tentang cara untuk membangkitkan pemilih Amerika melalui organisasi yang mirip dengan MoveOn. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment