Analis: Tidak Realistis, AS Bersikeras Soal Perubahan Rezim di Suriah !

tujuan AS

Rabu, 07 September 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, WASHINGTON DC – Seorang analis menyarankan bahwa Amerika Serikat harus berhenti bersikeras soal perubahan rezim di Suriah jika ingin mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk menciptakan perdamaian di negara Arab tersebut.

Dalam sebuah wawancara telepon dengan Press TV pada hari Senin (05/09), James Jatras, seorang diplomat dan mantan penasehat di kepemimpinan Senat Partai Republik AS, mengatakan bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan tentang krisis Suriah berikut berjuta pertemuan antara pejabat Rusia dan AS adalah “tidak mengherankan”. (Baca juga: Financial Times: Rusia Hancurkan Mimpi Perubahan Rezim di Timur Tengah)

Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di sela-sela KTT G-20 di Hangzhou, China, pada hari Senin untuk mencapai kesepakatan atas situasi di negara Muslim yang dilanda perang itu, tetapi tidak berhasil. Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov juga telah mengadakan pertemuan demi pertemuan selama tiga bulan terakhir, namun tetap berselisih.

Menurut Jatras, salah satu perbedaan yang utama adalah terkait dengan nasib pemerintah Suriah, Presiden Bashar al-Assad. (Baca juga: PUTIN, Target Fitnah ‘Gila’ Barat Setelah Gagalnya Operasi Perubahan Rezim)

“Apa masa depan Suriah? Amerika Serikat bersikeras dengan perubahan rezim; Assad harus pergi, dan tentu saja, Rusia tidak akan menerima itu, “kata analis yang berbasis di Washington tersebut, menyuarakan pesimismenya. Ia menambahkan, ” kesepakatan apapun tidak bisa dicapai antara kedua belah pihak selama pemerintahan Obama bersikeras pada tujuan yang tidak realistis dan jelas-jelas tidak sah yaitu perubahan rezim”.

“Walaupun lebih banyak pertemuan telah direncanakan untuk diadakan selama krisis lima tahun,” ungkap Jatras, “Saat ini, keputusan yang dibuat adalah berdasarkan pada “realitas militer tidak pada kesepakatan antara Washington dan Moskow”. (Baca juga: Analis; Invasi Turki di Suriah Untuk Gulingkan Assad)

Suriah telah dicengkeram oleh militansi yang didukung asing sejak Maret 2011. Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura memperkirakan bahwa lebih dari 400.000 orang telah tewas dalam konflik.

Tentara Suriah telah bersumpah untuk terus maju dengan operasi kontra-teror dan mengusir teroris dari posisi utama mereka. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment