Anis Baswedan Merupakan Achilles dalam perang Troya Jokowi

baswedan

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – AniesBaswedan‬ itu orang baik, cerdas dan lurus. Ia orang pergerakan sejak muda hingga sekarang. Sebagai orang pergerakan ia piawai dalam retorika, menularkan inspirasi, memotivasi, merebut simpati dan kepercayaan. Kapasitasnya ini terbukti saat ia mendampingi Presiden Jokowi dalam masa kampanye Pilpres. Ia sangat pantas menjadi seseorang yang memimpin perubahan karakter pendidikan nasional dan banyak yang setuju dengan ini.

Namun setiap orang punya tempatnya sendiri. Tantangan memimpin pergerakan, apalagi gerakan relawan yang bersifat self-organized, horisontal, dan berbasis komunitas, sangat berbeda ketika memimpin sebuah institusi birokrasi yang vertikal, membeku, hierarkis, dan berada dalam pusaran politik serta kepentingan dari level elit sampai level paling bawah. Pergerakan diisi oleh orang-orang yang sepaham, sevisi, semisi, dan setujuan. Mereka ada untuk bergerak, karena itulah ia dinamakan pergerakan. Bukan pekerjaan dimana orang-orang di dalamnya bertujuan untuk bekerja — yang lebih banyak soal mencari penghasilan. Nyatanya bergerak dan bekerja ini bukan kata yang sinonim.

Anies adalah guru, pendidik, penerobos, aktivis, motivator dan inspirator. Ia masuk ke dunia baru ketika berhadap-hadapan dengan birokrasi, politik, kepentingan, anggaran, pelayanan, regulasi, dan kualitas SDM dalam institusi pendidikan utama di negeri ini yang sakitnya sudah sangat kronis. Ternyata diperlukan orang dengan kecakapan berbeda untuk membawa perbaikan secara cepat khas Jokowi di institusi ini, dimana orang baik, lurus dan cerdas saja tidak cukup. Dibutuhkan seseorang dengan kemampuan taktis dan cerdik bak jenderal perang menyusun kekuatan, mengeksekusi dan menjaga rencana tetap pada alurnya. Dan semua itu mesti cepat ala Jokowi.

Anies adalah pahlawan perang yang mampu menyemangati pasukan. Ia adalah Achilles dalam perang Troya. Namun dibutuhkan lebih dari seorang pahlawan perang untuk memimpin pertempuran besar untuk dimenangkan secara cepat. Diperlukan orang yang mampu mengelola politik dan kekuasaan dalam skala besar — kapasitas yang saya rasa belum cukup dimiliki Anies. Untuk memenangkan perang ini Jokowi perlu seorang Odysseus.

Saya rasa mengganti Anies Baswedan adalah salah satu pengorbanan terbesar Jokowi. Presiden pasti tahu benar bahwa ia sedang mencopot seorang pejuang yang cerdas, bersih, dan lurus dari kursi jenderal perang yang dulu pernah membantunya memenangkan Pilpres. Seorang Achilles yang merebut hati dan simpati serta terlanjur dicintai banyak orang. Bila Jokowi mementingkan popularitas, Anies masih di kursi menteri saat ini. Jika Jokowi mengedepankan balas budi, rakyat tak mesti kecewa hari ini. Jokowi pasti tahu ia sedang melakukan pengorbanan besar, namun setiap pengorbanan harus ada imbal baliknya. Jokowi bukan orang bodoh, apalagi orang jahat. Saya yakin imbal balik itu adalah misi utamanya mengubah secara fundamental dan cepat dunia pendidikan nasional lewat Kementerian Pendidikan. Sangat mungkin Jokowi kelewat menyayangi Anies dan tak ingin koleganya itu terlanjur terpuruk dalam kegagalan karena berdiam lebih lama di tempat yang tak semestinya. Menaruh seseorang di tempat yang keliru dan menahannya hanya demi popularitas akan membuat persoalan makin runyam. Bukankah itu yang selalu kita lihat pada kabinet pemerintahan-pemerintahan sebelumnya?

Anies tetap pahlawan dan akan kian bersinar setelah ini. Ia pasti sudah belajar banyak dalam 20 bulan duduk di kabinet dan bersentuhan langsung dengan kekuasaan, politik serta birokrasi. Mungkin itu pula modalnya untuk mundur beberapa langkah, belajar kembali, dan kelak melaju lagi. Ia sudah begitu populer dan dicintai banyak orang. Sekarang Anies hanya harus belajar lebih banyak soal pengelolaan politik dan kekuasaan yang sangat mungkin membawanya ke persaingan Pilpres 2019. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment