Arab Saudi Kacaukan Dunia dengan Ideologi Takfirisme dan Wahabisme

Isis produk Saudi

Rabu, 27 Juli 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, RIYAD  – Arab Saudi terus mengadopsi kebijakan agresif terhadap Iran dan sekutunya yang membantu Irak dan Suriah melawan militansi Takfiri.

Takfirisme merupakan merek dagang dari banyak kelompok teror yang beroperasi di Timur Tengah, termasuk ISIS, sebagian besar dipengaruhi oleh Wahhabisme, ideologi radikal yang mendominasi Arab Saudi dan bebas disebar luaskan oleh para ulama Saudi.

Bukan kebetulan, jika Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir menuduh Iran mendukung terorisme di Suriah: setelah keberhasilan Teheran, Moskow dan Damaskus dalam memerangi terorisme di Suriah. Sementara tidak akan ada keberhasilan yang jelas bagi Amerika Serikat, Israel, House of Saud dalam perang proxy mereka untuk menumbangkan pemerintah Suriah. Selain mencoba untuk merebut Suriah dan Irak jauh dari Iran, penukar rezim tidak tertarik dalam membina “demokrasi” di Damaskus dan Baghdad.

Rezim Saud tidak dapat menyangkal fakta keterlibatan mereka dalam mendorong perubahan rezim di Damaskus. Mereka melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan melatih dan mempersenjatai kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Dalam sebuah wawancara dengan Haaretz, mantan menteri pertahanan Israel Moshe Ya’alon pernah berkata: “Israel secara terbuka mendukung para Tentara Pembebasan Suriah dan faksi-faksi bersenjata lainnya dalam melawan pemerintah Suriah.” Indikasinya bahwa Israel telah mendukung semua pendatang sebagai bagian dari keputusan mereka untuk mendukung teroris dalam melawan pemerintah yang terpilih secara demokratis Presiden Bashar al-Assad. (BACA: Menlu Rusia: Konspirasi Penggulingan Bashar Assad Merupakan Kejahatan

Narasi saat ini adalah bahwa mereka masih berusaha untuk menopang imajiner “moderat”, Israel dan Saudi terlibat kejahatan dalam membantu resimen dan mempersenjatai kelompok teroris seperti ISIS, FSA, Jabhat al-Nusra dll. Mereka sekarang menghadapi konsekuensi dari ketidakstabilan yang mereka ciptakan hingga merembet ke negara-negara Eropa.

Manuver Saudi di kawasan dengan menciptakan perang proxy dengan mengangkat isu sektarian. Tidak seperti Arab Saudi, Teheran tidak membantu Damaskus dalam memerangi ISIS dan teroris “moderat” lainnya dalam rangka untuk mempromosikan dominasi strategis atau untuk mengeksploitasi keuntungan sektarian, yang pada gilirannya akan digunakan untuk mempromosikan dominasi strategis di wilayah tersebut.

Iran membantu Suriah karena mereka adalah sekutu dan memiliki persetujuan penuh dari pemerintah di Damaskus. Di masa lalu, pemerintah Iran mencoba berkali-kali untuk membantu menyelesaikan sengketa antara Damaskus dan kelompok oposisi melalui dialog dan rekonsiliasi di Teheran, yang akhirnya gagal – sebagian besar berkat rezim regional dan trans-regional yang membantu mengubah oposisi ke ISIS dan sekutunya Al-Qaeda.

Menteri Luar Negeri Saudi al-Jubeir menuduh Iran mendukung teror dan memperburuk situasi di Suriah. Dengan menuduh Iran, ia jelas berusaha untuk menyembunyikan masalah sendiri dan kekurangannya sebagai menteri luar negeri. Sekarang menjadi rahasia umum bahwa militan yang disebut “moderat” berhasil menguasai wilayah di Suriah dan Irak serta selanjutnya mengguncang seluruh planet dengan dukungan keuangan dan militer yang mereka terima dari Arab Saudi dan Qatar.

Bagaimanapun, Iran bangga mendukung sekutunya Suriah. Sama seperti Irak, Afghanistan, Yaman, Libya dan Suriah adalah korban terorisme dari upaya perubahan rezim. Amerika Serikat, Israel dan hampir semua rezim-rezim Arab yang bersekongkol untuk melakukan perubahan rezim di Suriah, mengkambinghitamkan Iran untuk melindungi Israel, dan menerapkan desain regional mereka. Namun sejauh ini, mereka telah gagal. [VOAI]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment