Arman Dhani: Jihad Sosmed Cara Jitu Perangi Propaganda ISIS Di Dunia Maya

sosmed

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Dalam akun facebook Arman Dhani (26 Juli 2016) menulis tentang pentingnya “Jihad Sosmed” untuk menghadapi kelompok Teroris, Radikalis dan Ekstrimis. Analisa yang cukup padat dan sangat bermanfaat. Berikut tulisan analisanya:

JIHAD SOSMED

Jika anda menonton film dokumenter Jihad Selfie yang dibuat oleh Noor Huda Ismail, anda akan tahu bagaimana perekrutan ISIS bekerja. Mereka mulai dari sosial media, masuk ke anak-anak muda, memberikan mereka pemahaman tentang citra ideal islam versi mereka, lantas ketika si anak muda tadi tertarik, mereka diminta berbaiat. Menjadi gerombolan ISIS. (Baca: Siasat Kelompok dan Media Radikal, Syiahkan dan Liberalkan Ulama Aswaja)

Sementara ISIS dengan gencar bekerja merekrut, mencari, dan menyebarkan paham mereka di Internet, beberapa dari kita berdebat tentang apakah melawan ISIS di Internet itu efektif? Emangnya ‪#‎hastag bisa ngubah keadaan? Perdebatan ini membuat banyak orang berhenti memerangi ISIS di media sosial.

Sementara ISIS, tak peduli akan debat itu, terus gencar mempropagandakan kebencian mereka setiap hari. Berdasarkan laporan dari Brookings Institute pada Desember 2014 ada 46.000 akun twitter yang berafiliasi dan mendukung ISIS. Tentu saja tidak semua akun itu hidup dan aktif, namun jika 10 persen saja aktif, bayangkan berapa banyak propaganda kebencian yang dilancarkan?

Mantan anggota keamanan nasional Amerika Serikat Hillary Mann Leverett pada Februari 2015 menyebut bahwa ISIS menggunakan setiap platform media sosial yang ada untuk melancarkan propaganda dan merekrut anggota baru. ISIS setiap harinya mengirimkan 90.000 pesan digital di akun media sosial mereka. Termasuk tweet, video di youtube, postingan di facebook, blog dan sejenisnya. (Baca: Waspadalah Virus Radikalisme di Media Sosial Ancam Keutuhan NKRI)

Sementara kita masih berdebat bahwa percuma melawan propaganda ini, ISIS setiap hari mendapatkan simpatisan dan anggota baru. Beberapa dari kita lebih suka melecehkan mereka yang berjuang melawan kebencian di internet, merusak mereka yang melawan propaganda kebencian, daripada ambil bagian dalam perang digital ini.

J.M. Berger, seorang peneliti di Brookings Institution, pada 2015 memberikan kesaksian di Amerika Serikat terkait penggunaan media sosial oleh ISIS. Penelitian ini didanai dan difasilitasi oleh Google. Berger bersama koleganya menggunakan sistem yang mengidentifikasi dan melacak siapa saja pendukung ISIS di media sosial.

Hasil penelitian Berger semakin membuka mata tentang agresivitas ISIS dalam penggunaan media sosial. Jika sebelumnya ISIS disebut melancarkan 90.000 pesan sehari. Berger menyebut angka paling ideal adalah 200.000 perhari. Angka itu termasuk berasal dari twit, postingan video, dan blog. Kebanyakan dari mereka berasal dari Iraq dan Syiria.

Berger juga menyebut bahwa ISIS menggunakan hastag tertentu untuk mengidentifikasi pendukung mereka. Setelah itu mereka akan merekrut dan mengajak mereka untuk bergabung. Setidaknya pada 2014 ada 3.000 relawan ISIS berasal dari negara-negara dengan non mayoritas penduduk Islam, seperti Eropa dan Amerika. Masih mikir hastag ga ada gunanya?

John Little, pengamat keamanan dan teknologi di Blogs of War, menyebut ISIS menggunakan video, foto, dan kata-kata propagandis untuk menarik perhatian. Mereka menyasak anak-anak muda yang mencari jati diriny untuk bergabung. Foto dan video tersebut juga digunakan untuk memulai konflik sektarian antara Sunni-Syiah, atau Muslim- Non Muslim. (Baca: “Hasutan Sektarian” Modal Media Radikal dan Wahabi)

Menariknya kebanyakan dari relawan ini berakhir menjadi pengantin. Sejauh ini rekruitmen jihadis banyak menjadi pelaku bom bunuh diri ketimbang para perekrutnya. Dengan iming-iming surga, mereka mengajak orang untuk meledakkan diri, sementara para perekrutnya tidak melakukan hal itu.

Alaaaaah apaan, emangnya ada orang goblok yang mau gabung ama ISIS dari Sosmed? WKWKWKWKWKWKW MIKIRRR BLOK GOBLOOOK RAMASOOK

Insiden penyerangan teroris di Paris yang menewaskan 127 orang dan melukai 300 yang lain adalah produk dari media sosial dan internet. Para teroris ini merencanakan dan berkomunikasi via PSN Account di PS4. Cara ini tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh penegak hukum, sehingga mereka kebobolan. Kini masih mikir bahwa percuma lawan ISIS di Internet? (Baca: Pejabat Rusia Serukan Kontrol Media Untuk Lawan Radikalisme)

Peter Bergen analis CNN menyebut bahwa 10 tahun lalu amat sulit membayangkan seorang jihadist di pakistan atau syiria akan berkorespondensi dengan remaja tanggung di Philadelpia. Atau Seorang ekstrimis di Iraq menjadi sahabat pemuda galau di Paris Prancis. Internet membuat semuanya mudah dan riset terbaru menunjukkan bahwa rata-rata pasukan yang direkrut ISIS masih berusia 24 tahunan. Atau dengan kata lain milenials.

Ah tapi pak enakan nyinyirin yang lawan ekstrimisme di Internet daripada melawan ekstrimisme itu sendiri. WKWKWKWKWKWK. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment