AS Ingkari Janji Pisahkan Oposisi dan Teroris, Putin Kecewa

putin.jpg

Minggu, 18 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, BISHKEK – Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa kelompok-kelompok teroris, yang diharapkan Rusia untuk segera dipisahkan dari ‘pemberontak moderat’ dalam perjanjian dengan AS, malah menggunakan gencatan senjata yang berlangsung untuk bergabung kembali.

“Kami sepakat bahwa front Al-Nusra dan kelompok semacamnya itu akan dipisahkan dari apa yang disebut faksi oposisi yang sehat, dan kami akan diberitahu di mana lokasi terakhir mereka berada. Tapi apa yang kita lihat sekarang ini bukanlah pemisahan bagian oposisi yang sehat dari para teroris. Kami melihat bahwa pasukan teroris justru berusaha untuk bergabung kembali. “Kata Vladimir Putin kepada para wartawan di Bishkek, sebagaimana dikutip Russia Today, Sabtu (17/09) kemarin. (Baca juga:AS Khianati Rusia Terkait Opisisi Moderat)

Pekan lalu, Moskow dan Washington sepakat untuk menggunakan pengaruh mereka pada pemerintah Suriah dan apa disebut pasukan pemberontak moderat masing-masing untuk membangun gencatan senjata di negara yang dilanda perang. Sementara kekerasan berkurang, kemajuan atas hal ini telah dirusak oleh beberapa pelanggaran.

Rusia telah berulang kali mengeluh bahwa AS gagal untuk memenuhi kewajibannya dalam perjanjian dan menghentikan percampuran antara kelompok-kelompok bersenjata, yang benar-benar ingin perdamaian di Suriah dengan mereka yang ingin permusuhan terus berlanjut. (Baca juga:AS dan Teroris Dukungannya Langgar Gencatan Senjata)

AS untuk bagian ini menuduh Rusia tidak cukup menekan Damaskus untuk memfasilitasi akses kemanusiaan ke Suriah. Pemerintah Suriah mengutip bahaya yang ditimbulkan oleh penembakan berkelanjutan yang dilakukan pasukan pemberontak sebagai alasan mengapa konvoi kemanusiaan terhambat.

Putin mengatakan bahwa meskipun tersendat, Moskow berharap bahwa upaya rekonsiliasi di Suriah akan berhasil.

“Kami lebih positif daripada negatif dan berharap bahwa janji-janji, yang pemerintah AS buat untuk kita, akan dilaksanakan,” katanya.

Kedua negara juga bertentangan atas masalah penting lainnya. Moskow mengatakan ingin ketentuan kesepakatan AS-Rusia yang akan diumumkan ke publik dan disahkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB, sedang Washington menegaskan bahwa hal ini harus tetap menjadi rahasia, dengan alasan bahwa gencatan senjata bisa saja rusak. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment