Demi Amankan Kekuasaan, Mansur Hadi Gunakan Al Qaeda Sebagai Boneka

Kamis, 09 Maret 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, SANA’A – Baru-baru ini Gubernur Hadhramaut menuduh bahwa pemerintahan Hadi telah berkolusi dengan teroris Alqaeda. Adel Ba Haeed dinominasikan sebagai gubernur Hadrammut oleh Hadi tapi setelah satu setengah tahun ia menuduh perdana Khaled Bahah bekerja sama dengan Alqaeda dan bahwa mantan PM Yaman itu menyesatkan opini publik domestik & internasional dan telah dengan sengaja meninggalkan Hadhramaut untuk Alqaeda.

Menurut aktivis Yaman, dalam wawancara dengan Arrahmahnews.com, Husam Al Sanabani, mantan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi dan putranya Jalal dikenal sebagai orang-orang yang korup. Dan bahwa mereka adalah orang-orang licik yang bisa bersikap mendua untuk mengambil keuntungan dari beberapa pihak yang bertentangan.

Jalal, putra mantan presiden Yaman Hadi, ditenggarai berperan dalam perkembangan Al Qaeda di Yaman

Misalnya mereka mendukung Houthi dalam bentrokan dengan salafi wahabi “Al Qaeda”, di Damag keluarga Al Ahmer di Hasheed, Hameed Al Qushipi di Amran dan Ali Mohsen di Sana’a pada tahun 2014 dan berencana untuk menggunakan sejarah berdarah itu untuk mengadu domba Houthi dan Saleh di Sana’a.

Dan setelah Saleh berhasil dilengserkan, dia dan anaknya berencana mengkompilasi semua pihak yang kalah untuk bersama-sama melawan Houthi dengan dukungan internasional khususnya Saudi dan AS yang tidak akan membiarkan Houthi memegang pemerintahan dan akan lebih memilih Hadi sebagai yang layak diselamatkan dan bersama-sama akan menerima untuk bekerja sama dengan Hadi dan menyingkirkan Houthi.

Setelah semua, sekarang Hadi menggunakan Al-Qaeda sebagai boneka demi mendapat tambahan dukungan dalam meraih kekuasaan di Yaman. Karenanya ia memilih menutup mata dari aktifitas Al-Qaeda dan membiarkan kelompok teror itu merajarela hingga nantinya ada pihak yang memberinya dukungan dengan sejumlah dana, logistic dan militer untuk alasan memerangi Al-Qaeda di Yaman.

Al Qaeda bukanlah ancaman langsung bagi Hadi dan anaknya, sama juga dengan keberadaan mantan Presiden Saleh sebelumnya. Al-Qaeda adalah ancaman bagi AS dan negara-negara barat karenanya itu adalah kesempatan untuknya mendapatkan dukungan, simpati dan kekuatan untuk mengancam dan menuduh semua pihak lokal bahwa mereka menggunakan al Qaeda untuk melemahkan rezim Hadi.

Hadi adalah dari Abyan dan gubernuran ini juga dikenal sebagai sarang Al Qaeda. Al Qaeda Yaman pertama muncul secara terang-terangan di Abyan pada tahun 1997 di bawah Abu Alhassan Al-Mahdar dan mereka menculik 16 turis dari Inggris dan Australia dengan tuntutan untuk melepaskan beberapa rekan mereka dari penjara politik, pemerintah menolak dan mencoba untuk melepaskan para wisatawan dengan paksa , sayangnya 4 dari wisatawan tewas dan Abu Alhassan Al-Mahdar ditangkap dan dieksekusi.

Gubernuran Abyan adalah seperti sebuah hotel dengan pintu pagar, satu hari di bawah kendali Al Qaeda dan hari kedua di bawah kendali pemerintahan Hadi.

Pada tanggal 28/12/2015 Hadi menunjuk Naif Al-Qaisi sebagai gubernur Al-Bayda, padahal sudah diketahui bahwa Naif Al-Qaisi adalah pendukung Al-Qaeda. Bahkan Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepadanya pada Mei 2016.

Al Bayda berada di sebelah utara Abyan, markas AlQaeda dan juga berada di selatan Marib di mana aktivis Al Qaeda bergerak dengan bebas diantara kedua tempat tersebut.

Orang kedua yang masuk pemerintahan Hadi juga sangat dikenal sebagai aktivis Al Qaeda yaitu Abdulwahab Al Humikani. Dia adalah sekretaris jenderal partai Al Rashad Salfi. Pada Desember 2013, AS menambahkan namanya ke daftar sanksi pendukung AlQaeda. Meskipun begitu, Hadi tetap memilih Al Humikani menjadi anggota dalam dialog nasional dan setelah itu ia dipilih lagi oleh Hadi menjadi anggota konferensi Jenewa tentang Yaman.

Business insider, surat kabar AS, pernah memuat sebuah artikl yang mengomentari hal ini dimana diperlihatkan gambar Al Humikani, seorang pangeran Al Qaeda berjabat tangan dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon dan berdiri di samping mereka Utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed.

Surat kabar itu menjelaskan gambar ini sebagai foto memalukan dan menyoroti bahwa hal ini merusak upaya masyarakat internasional memerangi pendanaan teroris.(Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment