Demi Mendanai Aksi Teror di Indonesia, Teroris Majalengka Niat Jual Sabu dan Bom

photo426014490831727266-300x200.jpg
Jum’at, 02 Desember 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Kelompok teroris Majalengka sempat berniat membuat pabrik sabu. Mereka berencana menggunakan uang hasil penjualan sabu untuk mendanai aksi teror di Indonesia. (Baca: MENGAGETKAN! Darimana Terduga Teroris Abu Syifa Cari Dana Amaliah?)

“Mereka sebenarnya ingin membuat laboratorium narkotika, yaitu pembuatan sabu. Cita-citanya adalah sabu dijual kemudian uang hasil penjualan digunakan untuk melakukan kegiatan aksi teror,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/11).

Namun, niat memproduksi sabu ini batal. Kelompok teroris Majalengka yang terdiri atas Rio Priatna Wibawa (RPW), Eep Saiful Bahri, Bahrain Agam, dan Hendra mengubah tujuan di tengah jalan.

“Akan tetapi ide ini berubah sejak berkumpul 2016 bulan Juni, mereka akhirnya mengubah haluan, yakni akhirnya barang-barang itu sudah mereka persiapkan. Hanya mereka belum dapatkan detonator. Jadi barang ini setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium forensik minus detonator,” papar Boy.

Menurut Boy,mereka menargetkan aksi teror pada akhir tahun. Kelompok ini dipastikan berbeda dengan tersangka teroris berbaiat pada ISIS yang menyusup pada demo 4 November. “Rio (RPW) bersama rekannya dalam hal ini Bahrain itulah yang melakukan survei terhadap daerah-daerah yang akan dijadikan target,” sambungnya. (Baca: Denny Siregar: Geger Politik Indonesia dan Aksi Terorisme)

Bahan peledak yang dibuat di laboratorium Rio, menurut Boy, punya kekuatan daya ledak besar. Karena itu diselidiki juga aliran dana terkait kelompok teroris Majalengka. “Aliran dana yang mereka dapat uang, modal yang cukup besar untuk mengumpulkan barang-barang yang mereka siapkan,” ujar dia.

Terima Order Buat Bom

Selain itu, dari hasil pemeriksaan, keompok Majalengka ini juga siap menerima order pembuatan bom dari kelompok teroris lainnya. Mereka memang piawai membuat bom high explosive (berdaya ledak tinggi) dari bahan baku di pasaran.

“Dengan keberhasilan mereka membuat bom, nantinya mereka akan menerima pesanan bom dari kelompok mana saja yang membutuhkan bom,” kata Boy Rafli.

Diketahui dari penggeledahan yang didapat Densus 88 Antiteror, bom yang dibuat kelompok ini bukan main-main. Sebab, dari bahan baku yang mereka dapati di pasaran, bom yang diracik kelompok ini bisa melebihi kekuatan Bom Bali pada tahun 2002 yang menewaskan ratusan orang. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

Adapun barang bukti yang disita dari kelompok Majalengka ini di antaranya yaitu, bahan baku RDX (Royal Demolition Explosive), bahan baku HMTD (Hexamethylene triperoxide diamini), bahan baku Anfo, TNT (Trinitrotoluena), bahan baku black powder, dan paku.

Sejauh ini, dari pemeriksaan terungkap bahwa kelompok teroris di Majalengka ini memang sudah merencanakan aksi ledakan bom untuk akhir tahun 2016. Sasaran yang mereka tuju merupakan sejumlah objek vital seperti Mabes Polri, gedung DPR dan MPR, Kedutaan Besar Myanmar, dan sejumlah stasiun televisi swasta.

Kini, keempat tersangka ini masih menjalani pemeriksaan intensif kepolisian. Seluruhnya akan dikenakan pasal 15 juncto pasal 7 Perpu no 1 tahun 2002 tentang pencegahan dan pemberantasan terorisme ancaman 10 tahun sampai seumur hidup.

Cikal Bakal Terorisme

Terpisah, Kepala Bidang Investigasi dari Densus 88 Anti-teror, Faisal Tayeb, mengungkapkan momentum terbentuknya cikal terorisme internasional adalah invasi Uni Soviet ke Aghanistan pada tahun 1979. Tak hanya itu, pasca kemerdekaan pun sudah ada gerakan yang ingin Indonesia sebagai Negara Islam.

“Pasca kemerdekaan itu ada yang secara diam-diam, tetapi ada juga yang menggunakan cara keras untuk membuat Indonesia sebagai Negara Islam. Banyak dari mereka yang kemudian pindah ke Malaysia, kemudian terlibat dalam perang di Afghanistan selama sepuluh tahun,” kata Faisal dalam Simposium tentang Kekerasan dan Ekstremisme di Universitas Indonesia Depok, kemarin. (Baca: WASPADA! Embrio Khilafah HTI Anti Pancasila Tumbuh Subur di Kampus Indonesia)

Sekembalinya pejuang ini ke negara masing-masing, seperti di Indonesia pada tahun 2000 inilah yang kemudian menjadi “pekerjaan rumah” bagi pemerintah dan penegak hukum. Contohnya adalah bom Bali, bom di Kedutaan Besar Australia, bom Bali 2, bom JW Marriot, dan sebagainya.

“Jika tadinya global terorisme seperti ISIS berpusat di Timur Tengah, saat ini sudah merembet ke Bangkok, Filipina Selatan, juga ke Malaysia. Hal inilah yang mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan Asia,” ujar Faisal.

Selain itu, proses radikalisasi yang dilakukan oleh penyebar ideologi ini juga dilakukan secara langsung seperti melalui pengajian, penyebaran artikel di media sosial dan propaganda melalui aplikasi media sosial dan aplikasi perpesanan instan.

“Saat ini Banyak anak yang direkrut oleh kelompok radikal ini melalui media sosial dan penyebaran konten yang mengandung konten kekerasan. Ini menjadi permasalahan kita bersama, antara masyarakat dan pemerintah untuk memantau dan mencegah lebih banyak hal-hal yang tidak diinginkan,” lanjut Faisal. (voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment