Denny Siregar: HOAX Menjadi Senjata Penghancur Massal Tercanggih Saat ini

Hoax-Tangan.png

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Sebenarnya contoh mencari simpati melalui penderitaan anak-anak bukan merupakan barang baru di negara berkembang termasuk Indonesia. (Baca: Jonru Wahabi KADER PKS SANG Ahlul Fitnah WAL HOAX)

Coba lihat di pinggir-pinggi jalan. Seorang ibu menggendong balita di terik matahari dan mengemis meminta uang. Pasti trenyuh kan? Dan secara otomatis tangan kita terulur untuk memberikan lebih dari yang biasanya kita beri.

Hoax Anak kecil Makan Tangan ibunya di Aleppo

Padahal sesungguhnya menggunakan balita atau anak-anak dalam mengemis adalah bagian dari trik untuk mendapatkan uang. Banyak terbongkar bagaimana balita itu disewa sebagai “aktor cilik” menjadi peran pembantu. Lebih dramatis dan lebih mengharu biru.

Bahkan di India lebih sadis. Balita bisa dipatahkan kedua kaki dan tangannya demi meraih lebih banyak simpati. Pernah nonton film Slumdog Millionare? Dimana seorang anak matanya diberi lelehan besi panas supaya buta. Dengan kebutaannya, maka ia diharapkan mendapat lebih banyak uang bagi kelompok preman yang mengkoordinir pengemis. (Baca: HOAX! Erdogan Ikut Angkat Jenazah Muhammad Ali)

Hoax Erdogan

Pesan dramatis itu bukan hanya ada di jalan-jalan tapi juga di medan perang. Anak-anak dan orang terluka dijadikan sebagai alat propaganda. Selain situasi mereka akan menaikkan rating pada media internasional dengan sudut pengambilan gambar yang seru, situasi mereka yang menyedihkan juga dijadikan alasan untuk membenci kelompok tertentu.

Menyedihkan?

Ow, jangan tertipu. Keterbatasan sudut pandang kamera bisa menentukan kemana anda berpihak. Begitu juga ketersediaan aktor dan aktris sebagai penunjang drama.

Perang di Suriah adalah drama terbesar dan terkompleks di abad ini. Bukan saja banyak yang kebingungan siapa yang benar dan siapa yang salah, perang Suriah adalah perang propaganda terbesar yang dibangun media.

Selain ada perebutan kekuasaan terhadap pemerintahan yang sah, disana ada media-media internasional seperti Al-Jazeera yang men-dramatisir keadaan dengan menampilkan perang lebih seru dari situasi sebenarnya. Ban-ban dibakar dan asapnya yang hitam membumbung dieksploitasi sebagai “pemboman terhadap satu rumah yang berisi keluarga”. (Baca: HOAX .. Berita Anak Kecil Aleppo Yang Makan Tangan Ibunya)

Diluar media, ada juga LSM HAM seperti White Helmets yang menyediakan aktor dan aktris dengan “darah dan balutan luka” ala sinetron Raam Punjabi. Selain untuk menaikkan rating media, sinetron ini ditayangkan untuk mendapatkan donasi internasional dan like, shares untuk mendapatkan auto surga. Gambar dan video terbaru yang menjadi viral adalah “Anak kecil terluka yang duduk di kursi oranye”.

Satu pola yang sama, drama itu diciptakan untuk mendiskreditkan pihak tertentu, dan dalam hal Suriah untuk membunuh karakter Bashar Assad Presiden Suriah.

Jika akal mau sedikit bekerja, perhatikan keanehannya, bagaimana bisa Bashar Assad mengusir ISIS dari wilayah yang diduduki sekaligus di waktu yang sama membantai warganya yang ia lindungi ?

Tapi sinetron itu harus terus tayang, kalau perlu LSM penyedia aktor seperti White Helmets mendapat Nobel Perdamaian, sebagai penguat.Tujuannya mencari simpati dunia bahwa betapa kejamnya Bashar Assad terhadap rakyatnya sendiri, jauh lebih kejam dari ISIS yang menyerang negaranya. Dan ketika simpati dunia didapat, maka didapatlah restu PBB untuk menyingkirkan Assad. (Baca: Pemerintah Irak Tutup Kantor Berita Provokasi ‘Al-Jazeera’)

Mirip dengan penyingkiran Saddam Hussein dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal, yang akhirnya dianulir sendiri oleh AS dan sekutunya.

Kasihan memang rakyat Suriah. Selain diserang dari luar dengan senjata berat, mereka juga harus berperang melalui media sosial untuk melawan hoax dan propaganda media internasional. Secangkir kopi pagi dan kita harus terus bertanya dalam hati, “bagaimana jika ini terjadi di Indonesia?”. Seruputtt.. (Baca: Baghdad Kecam Media Arab Yang Sebarkan Hasutan Dan Fitnahan di Fallujah)

foto : (viral di media seorang bocah di suriah tertidur di antara kuburan kedua orang-tuanya yang terkena bom pasukan pemerintah. Ternyata hanya sinetron yang di setting dengan apik). (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment