Denny Siregar: Saudi Rusak Sakralitas Ka’bah dengan Berhala-Berhala Modernnya

berhala-modern-bani-saud

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Mekkah dan Madinah adalah dua kota suci yang merupakan milik Islam, milik semua umat Islam di dunia, meskipun secara teritorial berada dalam wilayah kerajaan Arab Saudi. Namun sangat disayangkan, Arab Saudi menganggap Haramain tersebut adalah milik mereka, dan secara sepihak menguasai penuh penggunaan dan pengelolaannya dengan seenaknya sendiri.

Satu hal yang perlu diperjelas, Haramain bukanlah Arab Saudi. Yang ada dalam teks hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan Haramain adalah penyebutan kota Mekah dan Madinah, bukan Arab Saudi. (Baca: Allah Bangunkan Haramain, Saudi Bangun Gedung Pencakar Langit)

Kalau seseorang mencaci dan memberikan stigma negatif pada Arab Saudi bukan berarti yang dicela dan dicaci itu adalah Haramain. Sebab yang membuat Arab Saudi itu mendapat pencitraan negatif adalah kebijakan-kebijakan rajanya, yang memang dalam banyak hal secara demonstratif menyimpang dari aturan Islam. Seperti kehidupan glamour pangeran-pangeran Arab maupun keakraban sang raja dan petinggi-petinggi kerajaan dengan rezim negara-negara Barat yang tidak sedikit kebijakan luar negerinya merugikan umat Islam. Termasuk bungkamnya Arab Saudi terhadap penjajahan Israel atas wilayah Palestina.

Dan saat ini kota suci Mekkah telah kehilangan wibawanya, berhala-berhala modern Bani Saud telah merusak sakralitas Ka’bah, hotel-hotel pencakar langit berdiri kokoh, mal-mal super mewah juga menjamur di sekeliling wilayah itu. (Baca: Antara Haramain dan Kerajaan Arab Saudi)

Salah satu tokoh pegiat media sosial Denny Siregar memberikan ulasan menarik tentang Ibadah Haji, berikut tulisannya:

Berhala-berhala di Sekitar Rumah Tuhan

Ibdah Haji adalah ibadah tertinggi sebenarnya bagi umat Islam. Dalam berhaji, terkandung makna totalitas kepasrahan tingkat tinggi bagi mereka yang memahaminya.

Itulah kenapa naik haji dikategorikan “bila mampu”, yang sebenarnya jika mau diperluas artinya “mampu” bukan di ranah materi, tetapi pada makna fisik dan spiritual.

Mampu untuk meninggalkan segala model keduniawian dan sudah terfokus pada akhirat dalam setiap kehidupannya ketika sudah mengunjungi “rumah Tuhan”. Rumah Tuhan adalah bahasa pendekatan, bukan rumah dalam artian sebenarnya.

Hanya, makna haji sekarang sudah jauh bergeser dari awalnya. Haji sekarang sudah menjadi sebuah kebanggaan, kenaikan status sosial bahkan bagi penyelenggara haji yaitu Arab Saudi yang menguasai tempat suci umat Islam itu, haji berarti politik dan uang.

Arab Saudi menggunakan kekuasaannya dengan memilah siapa yang boleh berhaji dan siapa yang tidak. Tahun ini sudah 3 negara yang dilarang mengirimkan jamaahnya untuk berhaji, yaitu Iran, Yaman dan Suriah. Semua terkait politik dimana Arab Saudi mempunyai kepentingan di dalamnya. (Baca: Kerajaan Saudi Larang Umat Islam Iran Laksanakan Haji 2016)

Sebenarnya pelarangan orang untuk beribadah haji sudah dilakukan Saudi sejak dulu, hanya tidak secara formal. Saudi berlindung di balik kata “kuota” atau jumlah pengunjung yang ditentukan oleh mereka sendiri.

Tahun 2015 saja, total jumlah jamaah haji terhitung kurang dari 1,5 juta orang. Sempitnya tempat untuk melakukan ritual haji menjadi masalah utama.

Seperti kita tahu, sekeliling Ka’bah sudah dipenuhi bangunan komersial mulai hotel sampai mall. Hal yang bertolak belakang dengan konsep mereka untuk mengikuti “sunnah Nabi”, karena pada masa Nabi di sekeliling Ka’bah adalah tanah kosong yang luas dan hanya berdiri tenda-tenda.

Karena keterbatasan kuota itulah, maka harga berhaji semakin lama semakin tinggi. Mulai harga penginapan sampai visa naik setinggi-tingginya karena tempat terbatas. Kalau anda miskin tapi sudah punya niat berhaji, tunggulah 10-15 tahun untuk bisa kesana. (Baca: Ulama Pakistan Kecam Saudi Tak Berikan Kebebasan Berhaji)

Mungkin anda bisa berhaji jika sudah sampai di surga…

Jadi untuk beribadah, niat saja tidak cukup karena anda harus siap dalam hal harta dan ketersediaan kuota. Menyedihkan….

Meskipun tidak layak membandingkan, tapi saya coba melihat bagian dari ibadah lain dimana umat muslim juga berkumpul di satu tempat, yaitu waktu pelaksanaan Arbain.

Arbain adalah ziarah umat Islam dari seluruh dunia untuk memperingati 40 harinya peristiwa pembantaian Sayyidina Husain ra -cucu Nabi Muhammad SAW- dan keluarganya di padang Karbala, Irak.

Berlangsung di Irak, pada tahun lalu jamaah yang mengikuti Arbain diperkirakan berjumlah lebih dari 20 juta orang. Tahun 2014 saja jumlah peziarah sudah mencapai 18 juta orang.

Kenapa bisa begitu banyak?

Karena tidak adanya gedung-gedung komersial yang memadati sekitar makam Sayyidina Husain ra.. Disana uang tidak berlaku, karena siapapun mencari pahala dengan adanya peziarah. Tenda tidur, makanan sampai pijat kaki semua gratis.

Ada semacam keyakinan mengambil berkah dari kaki-kaki mulia para peziarah yang sudah bersusah payah berjalan kaki atau napak tilas sejauh 80 km menuju makam.

Tidak ada kuota disana. Siapapun silahkan datang untuk berziarah. Tidak terbatas muslim, bahkan umat Kristen pun datang dalam jumlah kecil untuk melakukan penghormatan terhadap kisah fenomenal itu.

Begitulah yang terjadi, fakta yang sebenarnya yang tidak mau diakui banyak umat yang mengaku muslim.

Dengan segala cara mereka membenarkan tindakan Arab Saudi karena keyakinan bahwa Saudi adalah penjaga kunci rumah Tuhan.

Meskipun mereka juga bingung ketika ditanya kenapa sistem negara si penjaga rumah Tuhan itu adalah kerajaan, sedangkan Nabi Muhammad SAW pembawa agama Islam itu sendiri tidak menetapkan sistem kerajaan?

Jika memang Islam menggunakan sistem kerajaan, seharusnyalah keluarga Nabi yang menjadi raja-rajanya dan pemegang kunci rumah Tuhan, karena kerajaan menganut model keturunan, kecuali jika telah terjadi kudeta sebelumnya. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment