Denny Siregar: Strategi Perang Terbaru Sandiaga Uno Hadapi Pilkada DKI

Sandiaga.png

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Analisa Denny Siregar dalam webnya tentang strategi perang terbaru Sandiaga Uno lawan Ahok, berikut tulisannya:

STRATEGI PERANG SANDIAGA UNO

Ada model baru dalam strategi perang Sandiaga Uno dalam menghadapi pilkada DKI kali ini.Ketika awal mencalonkan diri, Uno begitu gagap dalam menerapkan strategi perangnya. Ia bermain dengan strategi lawas melalui pencitraan fisik dengan membagi-bagi pin di acara car free day. Saya pernah membahas ini dan menyarankan Uno untuk mengganti timsesnya karena konsep marketing dalam bentuk pengenalan wajah sudah tidak sesuai lagi di era sekarang. (Baca: Ahok: Bapak-Ibu Jangan Pilih Saya Kalau Ada yang Lebih Baik)

Sekarang tampak timsesnya Uno lebih matang dalam memainkan perangnya.. Strategi perang yang dimainkan Uno sekarang lebih bersifat defensif dan tidak agresif dengan cara menyerang ras dan agama Ahok. Uno paham, ketika ia menyerang fisik dan keyakinan Ahok, maka ia sebenarnya menjadi tim sukses komunikasi Ahok.

Uno tidak ingin terjebak pada situasi itu. Cara berperangnya lebih elegan. Fisik Uno yang tampak sebagai orang santun, ia manfaatkan betul sebagai bagian dari komunikasinya. Ia membuka dirinya menjadi “si santun yang terzolimi”. Tanpa mengeluarkan tenaga banyak, ia memanfaatkan tenaga “pendukung Ahok” yang radikal untuk menyerang dirinya. (Baca: Sial, Selfie Bareng Jonru-Sandiaga Uno Terlibat Kasus Panama Pepers)

Ketika foto ia mengenakan celana training dengan adeknya yang menonjol beredar – atau sengaja diedarkan? – secara viral, tidak banyak yang sadar bahwa Uno sedang memainkan komunikasinya. Ia mendapat bully massal dan menyediakan diri sebagai santapan empuk bahan tertawaan dari banyak orang.

Dengan begitu, ia menarik simpati orang2 yang tidak setuju ketika foto yang disebut “aib” itu tersebar luas. Ia mendiamkannya dulu beberapa hari sampai orang puas mengejeknya.

Ketika pembicaraan tentang foto itu menurun, ia memainkan langkah kedua yaitu meluncurkan pernyataan tentang situasinya ketika menghadapi peristiwa foto “menonjol” itu . Penjelasannya dan caranya menghadapi bully-an itu, kembali menaikkan nilai simpati mereka yang bukan pemilih Ahok dan dirinya. Ia menunjukkan bahwa ia dengan bijaksana mampu mengatasi situasi yang memalukan itu.

Dengan melakukan itu, Uno sebenarnya memainkan strategi lama Ahok yang terus menerus dipermasalahkan ras dan agamanya. Uno memainkan model terzolimi untuk menarik simpati.

Ia menambah minat mereka yang dulu simpati kepada Uno dengan kembali memainkan konsep defensif…

Ketika Jakarta banjir lagi, Uno tidak menyerang Ahok tetapi ia malah membela Ahok dengan menyatakan, “Jangan salahkan Ahok ketika Jakarta banjir, tetapi rubah perilaku membuang sampah sembarangan..”.

Ini bisa dibilang hantaman keras buat Ahok, karena orang yang tadinya simpati kepada Uno menjadi tambah simpati. Uno berhasil memainkan konsep santun sebagai pencitraan yang tepat sebagai lawan Ahok yang temperamental dan bergaya arogan. (Baca: Surat Terbuka Denny Siregar Kepada Teman Ahok)

Sandiaga Uno akan terus memainkan konsep terzolimi sebagai strategi perangnya. Ia muslim, kaya, santun yang dibuka aibnya oleh pendukung Ahok, menerima bullyan itu dengan lapang dada dan menguatkan Ahok supaya tidak disalahkan karena banjir.

Siapa coba wanita yang gak kelepek-kelepek terutama dari sisi emak-emak yang krisis paruh baya? Ini gaya playboy yang menundukkan hati wanita yang sudah jatuh hati karena wajahnya. Dan para emak-emak itu yang diharapkan mencoblos Uno saat pemilihan nanti selain para ormas muslim yang menolak pemimpin kafir dan gerombolan “asal bukan Ahok..”.

Bolehlah saya angkat secangkir kopi untuk strategi ini. Menarik dengan gaya baru dan efektif, meskipun secara program Uno lemah. Ia tidak mengeluarkan program pembenahan Jakarta tetapi lebih memanfatkan charmingnya supaya dipilih. (Baca: Denny Siregar dan Perang Politik Ahok)

Untuk pendukung Ahok, hati-hati. Ketika kalian sibuk membully Uno, maka ia akan memanfaatkan situasi supaya mendapat banyak simpati. Memuja Ahok secara berlebihan juga akan mengurangi simpati.

Perang sudah dimulai.

Dan supaya tidak bingung, kita kembali ke pepatah lama. “Dimana Mukidi berpihak, maka pilihlah Mukijo sebagai lawannya..” (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment