Duterte Hancurkan Wibawa Obama Dengan Umpatan “Anak Sundal”

57cdb0f8c461882e0d8b4608-e1473114715378.jpg

Selasa, 6 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, MANILA –  Pemimpin Filipina Rodrigo Duterte dalam sebuah komentar kontroversialnya menyebut Presiden AS Barack Obama sebagai “anak sundal”. Dutarte memperingatkan presiden AS itu agar jangan memberinya kuliah soal HAM atas perang terhadap narkoba yang ia lakukan di Filipina, pada pertemuan puncak pertemuan global di Laos, di mana keduanya akan bertemu.

“Dasar anak sundal, Saya akan mengutukmu di forum itu,” ungkap Duterte sebagaimana dikutip Russia Today, Senin (05/09) kemarin, sebelum presiden Filipina itu bertolak menuju Laos untuk menghadiri pertemuan para pemimpin global termasuk pemimpin Rusia dan Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh ASEAN. (Baca juga:Filipina Ancam Keluar Dari PBB)

Pernyataan itu muncul sebagai reaksi terhadap informasi yang mengatakan bahwa Presiden Obama akan membahas soal dugaan pembunuhan di luar hukum yang dilakukan Duterte selama kampanye anti-narkoba di Filipina yang telah meminta 2.400 jiwa.

Berbicara kepada wartawan pada hari Senin, Duterte bersikeras dia adalah “seorang presiden sebuah negara berdaulat” dan bahwa negaranya telah “lama berhenti menjadi koloni dari Amerika Serikat.”

“Saya tidak punya guru kecuali rakyat Filipina, tidak ada sama sekali,” tegas Duterte melanjutkan dengan memperingatkan para pemimpin dunia lainnya untuk tidak ikut campur dalam masalah kampanye anti-narkoba di negaranya.

Setelah tiba di Laos pada hari Senin, Duterte mengatakan dia masih akan mempertimbangkan pembicaraan dengan Obama. “Mungkin, jika saya merasa baik. Saya tidak ingin bertengkar dengannya. “

Rodrigo Duterte berkuasa pada bulan Mei, ia menjanjikan untuk menghapus pengedar narkoba dan mengakhiri masalah di negaranya. Menurut angka polisi terbaru yang dikutip oleh AFP, penegak hukum Juni telah menewaskan 1.011 tersangka kriminal, dengan tambahan 1391 “kematian dalam penyelidikan.”

Pendekatan ini mendapat dukungan luas di kalangan masyarakat rata-rata, namun meningkatkan kekhawatiran dari lawan politik, kelompok hak asasi manusia dan AS khususnya. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment