Erdogan: Setelah Al Bab Bebas dari ISIS, Maka Manbij Target Berikutnya

Kamis, 02 Maret 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, ANKARA – Turki mengatakan bahwa setelah pasukannya menyelesaikan operasi mereka di al-Bab, utara Suriah, mereka akan bergerak menuju kota Manbij yang dikendalikan pasukan Kurdi.

“Sekarang saatnya untuk Manbij, yang termasuk wilayah Arab, bukan PYD atau YPG,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (28/02/2017).

Pihak berwenang Turki lebih dulu mengumumkan penangkapan al-Bab pada akhir bulan lalu. Mereka telah membuat klaim serupa setidaknya dua kali. Menurut Erdogan, kota ini hampir dibersihkan dari teroris ISIS.

Pasukan Kurdi, terutama Uni Demokratik Kurdi, juga dikenal sebagai PYD, dan sayap militernya yang dikenal YPG, telah membebaskan kota Manbij dari ISIS pada tahun lalu. PYD atau YPG sekarang sedang mengendalikan hampir semua perbatasan utara Suriah dengan Turki.

Ankara menuduh PYD memiliki hubungan dengan kelompok milisi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah berjuang untuk wilayah otonomi Kurdi di Turki sejak tahun 1980-an.

Erdogan juga mencatat bahwa Turki ingin bekerja dengan sekutu-sekutunya untuk membebaskan Irak dari ISIS dan membebaskan Raqqah dari ISIS, tetapi tidak akan dapat bekerjasama dengan PYD atau YPG yang didukung AS. “Jika sekutu kita benar-benar tulus, kami katakan kepada mereka: Kami akan bertindak dengan Anda selama kita membersihkan Raqqah dari ISIS dan memberikannya kembali kepada pemilik aslinya,” katanya.

Dia menekankan bahwa ia telah berkali-kali meminta AS untuk menghentikan dukungannya kepada pasukan Kurdi di Suriah, terutama yang disebut Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang merupakan koalisi dari pejuang Arab dan pasukan Kurdi YPG.

“Hal ini jelas tidak mungkin bagi kita untuk setuju dengan atau bertindak bersama-sama dengan PYD atau YPG … Selain tidak bisa mengatakan ada teroris yang baik dan teroris buruk, dan kita tidak akan pernah mencoba untuk menggunakan satu kelompok teroris terhadap yang lain,” tambahnya.

SDF meluncurkan kampanye untuk membebaskan Raqqah pada bulan November 2016 dan menguasai beberapa daerah sampai lembah Efrat.

Selama hampir enam tahun, Suriah telah berjuang melawan kelompok teroris yang disponsori oleh Barat dan sekutu regionalnya. Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura pada bulan Agustus tahun lalu, memperkirakan bahwa lebih dari 400.000 orang telah tewas di Suriah. Badan dunia telah berhenti menghitung jumlah korban resmi di negara yang dilanda perang, karena ketidakmampuan untuk memverifikasi angka yang diterima dari berbagai sumber. [Voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment