Ikut Campur Urusan Internal Suriah, AS dan Saudi Arabia Illegal

AS-Saudi di Suriah

VOA-ISLAMNEWS.COM, SURIAH – Seorang penasehat senior Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei mengatakan kehadiran Amerika Serikat dan Arab Saudi di Suriah adalah ilegal.

“Kehadiran negara-negara seperti Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang mengintervensi tanpa persetujuan dari pemerintah Suriah adalah ilegal,” Ali Akbar Velayati, kepala urusan internasional, mengatakan pada hari Sabtu.

“Membuat keputusan untuk masa depan Suriah adalah hak penuh rakyat Suriah,” katanya, dan menambahkan, “mereka berusaha menganulir untuk ikut campur dalam urusan internal Suriah.”

Arab Saudi secara luas dilaporkan memberikan dukungan keuangan dan ideologis mewah untuk para militan Takfiri yang beroperasi di Suriah. Riyadh juga menjadi punggung Komite Komite Negosiasi (HNC), dari kelompok oposisi. HNC sejauh ini telah menolak dua usulan PBB (UN) yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik Suriah.

Banyak dari para teroris Takfiri yang beroperasi di Suriah diyakini berideologi Wahhabisme, “ideologi” ekstrim yang dikembang oleh kerajaan Saudi.

Amerika Serikat juga telah memimpin sejumlah negara dalam kampanye pemboman dengan klaim memerangi ISIS di Suriah sejak 2014. Kampanye yang harus mendapat mandat PBB dan persetujuan Damaskus ini, belum benar-benar membuktikan klaimnya.

Velayati juga mengomentari kudeta yang gagal di Turki pada bulan Juli, yang dilakukan oleh faksi militer Turki.

“Apa yang baru-baru ini terjadi di Turki memiliki hasil yang berbeda, termasuk [mengklarifikasi] siapa teman sejati dari Turki dan siapa yang tidak,” katanya.

Mengutip kecaman Republik Islam Iran soal kudeta tersebut, Velayati mengatakan, “Ini menjadi jelas bahwa Iran adalah teman nyata dari pemerintah dan bangsa Turki. Meskipun ada perbedaan, Iran datang membantu orang-orang Turki dan pemerintahnya pada hari kudeta terjadi dan mendukung pemerintah Turki yang sah.”

Iran adalah negara pertama yang mengutuk kudeta gagal di Turki.

Pada hari Jumat, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif melakukan perjalanan ke ibukota Turki, Ankara, dalam kunjungan pertama oleh seorang pejabat tinggi Iran ke Turki sejak kudeta pada 15 Juli.

Zarif bertemu dengan rekannya Mevlut Cavusoglu serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, membahas isu-isu penting dari kepentingan bersama dan sarana untuk menyelesaikan perbedaan antara Iran dan Turki. [VOAI]

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment