Isu SARA Dalam Politisasi Iedul Qurban

politisasi_iedul_qurban.jpg

Selasa, 13 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Isu sara sangat berpengaruh terhadap suhu politik jelang Pilkada di DKI, dan ditengarai makin memanas dan dapat berpotensi ‘out of control’ apabila  tidak dikendalikan baik oleh Pemerintah maupun, dan terutama, para calon dan pendukungnya. Indikasi bahwa isu SARA kembali mengemuka adalah pemanfaatan berbagai events atau peringatan keagamaan, khususnya Islam, bagi mobilisasi dukungan politik yang dilakukan baik individu atau kelompok tertentu. Salah satunya adalah momentum perayaan Iedul Adha atau Iedul Qurban yang akan berlangsung kemarin sampai besok (12-15 September 2016).

Seperti kebanyakan perayaan dalam tradisi Islam lainnya, Iedul Qurban juga melibatkan partisipasi massa yang massif serta kegiatan yang bernilai sosial ekonomi. Ibadah Haji dan penyembelihan ternak adalah dua ciri khas Iedul Qurban dan karenanya melibatkan bukan saja keterlibatan emosional ritual tetapi juga menyentuh relasi sosial, khususnya antara pihak yang berpunya dan yang miskin. Itu sebabnya pesan-pesan politik dengan mudah dapat diselipkan dan mobilisasi dukungan politikpun dapat digelar melalui event tahunan ini.

Maka tak heran jika parpol-parpol, para bacalongub dan para pendukungnya, ormas, dll memanfaatkan secara optimal Iedul Qurban dengan berbagai modus, mulai dari Khutbah di shalat Ied sampai dengan urusan pemotongan dan pendistribusian daging qurban. Dan seperti lazimnya jika pesan politik lebih kental ketimbang pesan-pesan moral dan relasi sosial, maka Iedul Qurban pun lantas menjadi wahana dan media pertarungan kuasa-kuasa baik melaui wacana maupun praksis keagamaan.

Perpolitikan DKI yang sudah sangat diwarnai kuatnya sentimen politik identitas sejak Pilkada sebelumnya (2012), menjadi kian mencolok dalam eksploitasi dan manipulasi terhadap perayaan keagamaan seperti Iedul Qurban. Apalagi mengingat sang petahana, Gub Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok, yang posisinya sangat kuat dan belum pasti benar penantangnya yang seimbang itu, adalah seorang non Muslim. Maka diakui atau tidak perayaan Iedul Qurban di wilayah DKI sangat kental dengan politisasi dan BTP juga menjadi salah satu pihak yang menjadi sasaran penggelaran politik identitas.

Dengan demikian, tidak mengherankan jika hari ini media sosial sarat dengan pertarungan wacana Iedul Qurban yang dipolitisasi. Termasuk penolakan terhadap sumbangan hewan qurban dari BTP yang dilakukan oleh sememtara warga di Jakarta Utara. Demikian pula munculnya fatwa agamawan yang memperkuat penolakan tersebut. Belum lagi khutbah-khutbah politis yang saya yakin banyak diberikan oleh para Khatib di ibu kota itu. Hal ini tentu saja akan menciptakan suasana politik yang lebih panas lagi karena politisasi Iedul Qurban ini terjadi pada minggu-minggu sebelum masa pencalonan ditutup sementara penantang BTP yang solid belum kunjung diumumkan.

Tentu kita berharap politisasi ini tidak akan bertambah menjadi-menjadi. Sebab hal itu sangat berpotensi negatif bagu pelaksanaan Pilkada. Pengalaman pada 2012 menunjukkan bahwa politik identitas tidak memdapat dukungan kuat dari rakyat DKI yang sangat heterogen dan kosmopolitan. Namun terap saja hal itu memerlukan pemantauan dan kontrol yang baik. [voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment