Juhanda, Pengebom Gereja Samarinda Ikut Aliran Anti Dzikir

juhanda-pelaku-bom-samarinda

VOA-ISLAMNEWS.COM, SAMARINDA – Juhanda, Pelaku pengeboman dengan bom Molotov ke Gereja Oikumene, Samarinda, diduga bergabung dengan kelompok radikal. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

Mereka disebut-sebut berkumpul di sebuah bangunan yang dulunya masjid. Bangunan itu berdiri di Jalan Ciptomangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir.

Meski dikenal sebagai masjid, warga sekitar jarang beribadah di sana. Amalan di masjid itu disebut warga berbeda dengan majelis umumnya.

Contohnya, tak ada zikir bersama setelah salat wajib. (Baca: Stempel Syiah Cara Wahabi, Teroris Serta Kelompok Radikal Padamkan Cahaya Qur’an dan Sunnah yang Cinta Persatuan)

Selama dua tahun terakhir, jemaah masjid justru berdatangan dari luar kelurahan. Jumlah mereka diperkirakan puluhan orang.

Kegiatan tertutup. Ceramah maupun pembacaan ayat suci Alquran hanya di dalam masjid tanpa menggunakan pengeras suara. Pintu masjid ditutup seolah ada pembicaraan rahasia. (Baca: Radikalisme dan Terorisme Adalah Buah Haram Wahabisme)

Pengajian hanya pada Minggu atau Senin malam setelah salat Magrib dan Isya. Ustaz di masjid sering mengutip, “isy kariman au mut syahidan”. Diartikan dalam bahasa Indonesia: hidup mulia atau mati syahid.

Kalimat itu pula yang tertulis di kaus Juhanda yang dikenakannya saat mengebom gereja. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment