Juncker: Uni Eropa Memiliki Hubungan Dengan ‘Rezim Najis’ Seperti Arab Saudi

200ee85a-8957-4939-8b13-076135277b0.jpg

Minggu, 27 November 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, BRUSSELS – Jean-Claude Juncker, Presiden Komisi Eropa menekankan pentingnya memiliki hubungan dengan “rezim najis” seperti Arab Saudi.

Juncker membuat pernyataan dalam wawancara dengan Euronews dalam menanggapi pertanyaan mengapa Uni Eropa masih memiliki hubungan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Kami, Uni Eropa, memiliki hubungan dengan rezim yang najis. Dan tidak ada yang bertanya kami tentang hal itu. Semua orang khawatir tentang Turki, tetapi tidak ada yang berbicara tentang Arab Saudi,” seperti dikutip RT, Sabtu (26/11).

Dia menambahkan bahwa posisinya di Uni Eropa membuat perlu baginya untuk menjaga hubungan dengan beragam orang “bahkan mereka, yang perusahaannya tidak aku hargai.”

“Kami memiliki hubungan dengan semua diktator karena kita perlu untuk mengatur dunia,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan dirinya telah mengenal Erdogan selama 18 tahun, dan menekankan bahwa Uni Eropa tidak dalam posisi untuk memberi kuliah pada Turki tentang bagaimana menangani pengungsi.

“Turki adalah mitra penting tidak hanya untuk krisis migrasi. Aspek ini jelas. Tapi karena Turki rumah bagi tiga juta lebih migran dan pengungsi,” katanya.

Pada hari Kamis, Parlemen Eropa memberikan suara mendukung pembekuan perundingan keanggotaan dengan Turki atas tindakan pasca kudeta Ankara.

Setelah kudeta yang gagal, Turki menahan atau memberhentikan lebih dari 125.000 orang atas dugaan dukungan terhadap kudeta tersebut. Negara-negara Barat melihat tindakan keras sebagai upaya untuk menghancurkan semua perbedaan pendapat.

Turki telah berusaha untuk menjadi bagian dari Uni Eropa sejak 1960-an. Negosiasi formal aksesi Uni Eropa dimulai tahun 2005. Namun hanya 16 bab dari 35 bab prosedur aksesi  telah dibuka untuk Ankara sejauh ini.

Dalam reaksi atas sikap Uni Eropa, Erdogan memperingatkan bahwa negaranya akan membuka perbatasannya dan mengizinkan pengungsi masuk ke Eropa. “Kami adalah orang-orang yang memberi makan 3,3 juta pengungsi di negara ini. Anda telah mengkhianati janji Anda. Jika Anda pergi lebih jauh, gerbang perbatasan akan dibuka,” katanya. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment