Kampanye Rasis Jonru Kader PKS di Rawajati Manfaatkan Ilyas Karim

ilyas-akrim-dan-jonru.png

Sabtu, 03 September 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Rawajati dibongkar oleh Satpol PP banyak nyinyiran kepada Ahok karena ada salah satu warga seorang bapak tua bernama “Ilyas Karim” dan dengan serempak para haters Ahok sebarkan foto-fotonya dengan meme yang seakan-akan Ahok tidak hormati bapak itu karena bapak itu adalah salah satu pengerek bendera, dan yang lebih mengenaskan lagi adalah salah seorang kader PKS di media sosial Jonru Ginting memanfaatkan situasi ini untuk melancarkan kampanye rasisnya kepada Ahok. dan ini cara mereka memanfaatkan situasi sebagai ladang kampanye gelapnya untuk serang Ahok.

FP Jonru

Pengerek Bendera Pusaka

Sempat saya trenyuh melihat foto seorang veteran tua, bernama pak Ilyas Karim, duduk lemas di samping tembok.

Rumahnya di Rawajati Pancoran, dibongkar Ahok karena dibangun diatas lahan hijau. Dan seperti biasa, banyak teman-teman saya yang ikut larut dengan kesedihan sang veteran dengan pekikan-pekikan di status mereka, “Ahok zolim..!” “Ahok menggusur pribumi!” dan mereka seakan-akan duduk bersama veteran tua itu, ikut nelangsa bersama. (Baca juga: Yusuf Muhammad: AHOK Menggila)

Entah kenapa tidak ada pekikan dari Fadli Zon, yang suka aktif bersuara. Saya tahu kenapa… karena FZ juga yang pada tahun 2011 membongkar kebohongan pak Ilyas Karim bahwa beliau bukanlah pengibar bendera pusaka pada awal kemerdekaan.

Dalam buku yang diterbitkan pusat sejarah ABRI disebutkan, lelaki bercelana pendek itu adalah Suhud Marto Kusumo.

Irawan Suhud, putra kelima Suhud, Rabu (24/8/2011), menyampaikan bahwa keluarga besarnya tersinggung karena peran sang ayah diklaim oleh Ilyas Karim.

Dihadiahi apartemen

Pada 2011, Ilyas menerima hadiah unit apartemen di Kalibata City dari pengembang Kalibata City, PT Pradani Sukses Abadi. Upacara simbolis serah terima kepada Ilyas dilakukan bertepatan pada peringatan HUT Ke-66 Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2011. Penyerahan dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI yang ketika itu dijabat Prijanto dan CEO Kalibata City ketika itu, Budi Yanto Lusli. (Baca juga: Jonru Kader PKS dan Media Radikal Serang Ahok Dengan Berbagai Fitnah)

Ketika itu, Budi Yanto Lusli menuturkan, pemilihan Ilyas Karim sebagai penerima satu unit apartemen dilakukan lantaran hanya Ilyas-lah saksi hidup pengibar bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kini masih ada. Hari ini, Ilyas mengaku kembali ke rumahnya di pinggir rel Rawajati karena unit apartemen itu hanya dipinjamkan kepadanya. Ketika itu, rumah Ilyas kebakaran sehingga ia dipinjami unit apartemen itu selama tiga bulan.

“Ilyas Karim tidak pernah tercatat dalam sejarah kemerdekaan, saya tidak tahu siapa dia..” Kata FZ lagi. “Tapi setidaknya jangan mengaku-ngaku, karena pengibar bendera pusaka itu bernama Suhud, anggota barisan Pelopor”. (Baca juga: SURAT TERBUKA UNTUK SAUDARAKU JONRU)

Itu FZ berbicara pada tahun 2011 lalu di Kompas online, tapi entah sekarang ketika ia punya kepentingan untuk selalu kontra dengan Ahok. Makanya ia lebih baik diam daripada menjilat ludah orang lain.

Okelah, kita sudah tahu bahwa ternyata sejarah tidak pernah mencatat bapak Ilyas Karim sebagai pengerek bendera pusaka. Tapi kan dia sudah tua? Trus masak mau ditelantarkan begitu saja?

Seharusnya dalam kondisi apapun, salah itu tetap salah. Mendirikan bangunan diatas lahan hijau adalah salah, karena lahan hijau itu diperuntukkan untuk publik bukan untuk pribadi, itu egois namanya.

Meski begitu, Ahok tetap menyediakan Rusun Marunda sebagai pengganti. “Saya siap membayar sewanya..” Kata Ahok yang memang sering membayar sewa Rusun dari orang-orang tua yang tidak mampu. Kenapa sih harus sewa, gak digratiskan aja? Ya, namanya peraturan harus ditegakkan dong. Yang lain sewa, masak yang satu gratis… Entar iri-irian.

Nah, kalau sudah win-win solution begitu, lalu kenapa ribut?

Ya biasa… Kepentingan menjelang Pilkada. Dan media senang mengangkat seseorang yang terzolimi, si terzolimi senang bermain playing victim, si pembenci koar-koar “lawan si non pribumi yang menggusur pribumi”, si Cagub yang gak ada yang memilih melampiaskan sakit hati dan buanyaaaakk lagii.

Sampai tumpah saya menuangkan air ke cangkir kopi, saking asiknya baca tentang pak ilyas karim. Padahal saya dah dibilangin teman, “tekonya dituang den.. dituang.. jangan dikerek..” (Voai)

Sumber: DennySiregar.com dan berbagai media

Related posts

Leave a Comment