Kasus Pembantaian Sadis AS di Mosul Dibawa ke DK PBB Oleh Rusia

“Tragedi mematikan yang terjadi pada 17 Maret 2017, tepatnya itu bukan yang terbaru karena ada banyak insiden yang merenggut nyawa warga sipil dalam serangan udara AS. Namun, pada 17 Maret (tragedi), pemboman berlangsung selama beberapa jam dan diperkirakan 200 warga sipil tewas”, kata Lavrov dalam konferensi pers, Senin (27/03/2017).

Dia menambahkan cukup aneh bahwa AS tidak menyadari mereka memukul target yang salah selama berjam-jam meskipun memiliki peralatan canggih dalam mengidentifikasi target.

Lavrov menambahkan bahwa negaranya “tertarik membebaskan Mosul dari teroris,” sambil mengingatkan bahwa koalisi pimpinan AS harus lebih “berhati-hati dan bertanggung jawab” seperti operasi Rusia di Suriah. (Baca: Hizbullah Irak: “Peluru” Satu-Satunya Bahasa Kami dengan Amerika)

Lebih lanjut, ia mencontohkan “sebuah koridor dibuat untuk semua militan, termasuk para anggota kelompok teroris (untuk meninggalkan Aleppo Timur). Banyak (militan) memanfaatkan kesempatan ini, sehingga mengurangi penggunaan kekuatan militer untuk pembebasan bagian dari kota,” katanya.

“Kami berharap AS memperhatikan hal itu, hati-hati dan bertanggung jawab serta pendekatan yang sama yang akan digunakan oleh koalisi dalam operasi lebih lanjut di Mosul,” tambahnya.

Dia juga mencatat bahwa Rusia memonitor operasi pembebasan Mosul dan telah membawa peningkatan korban sipil sebelumnya ke DK PBB. (Baca: Jubir Pasukan Rakyat Irak; Amerika Sama Sekali Tak Bisa Dipercaya)

Pekan lalu, PBB menyatakan “keprihatinan yang mendalam” atas peningkatan korban sipil di Irak dan meminta semua pihak yang terlibat dalam operasi anti-teror di negara itu untuk menghindari “penggunaan senjata secara sembarangan”. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment