Kepala BNPT: Indonesia Seperti Suriah Tanpa UU Terorisme yang Bener

bnpt

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Mengacu pada pengalaman Suriah, negara yang kini hancur oleh perang, salah satu ulama besar Suriah Taufiq Al-Buthi menekankan pentingnya mewaspadai bahaya fitnah bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Kelompok ekstrem, menurut Al-Buthi menggunakan fitnah sebagai senjata utama untuk merongrong fondasi sebuah bangsa. Fitnah dianggap mempunyai kekuatan untuk menciptakan jurang yang membelah kekuatan-kekuatan sosial-politik penopang keutuhan bangsa; ia mendorong posisi ekstrim dan pada akhirnya menggoyah pondasi bangsa. Dalam situasi ini, kelompok ekstrim yang pada umumnya adalah kelompok kecil akan memetik keuntungan karena bisa memainkan peran kunci. Keberadaannya dianggap penting oleh masyarakat luar sebagai alat koreksi. (Baca: BELAJAR DARI SURIAH, Inilah Karakteristik Ashabul Fitnah yang Hancurkan Sebuah Bangsa)

Hal itu sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius yang menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan Undang-undang terorisme yang tepat untuk menanggulangi permasalahan terorisme. Jika tidak, menurutnya, bukan tidak mungkin di Indonesia bisa muncul konflik seperti di Suriah. (Baca: Jangan Biarkan Ideologi Radikalisme Anti NKRI Tumbuh Besar)

“Indonesia bisa seperti Suriah enam tahun lagi jika tidak punya Undang-Undang Terorisme yang pas,” kata Suhardi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Selasa (11/10).

Pasalnya, BNPT mencatat sebanyak 500 warga negara Indonesia (WNI) saat ini berada di Suriah dan sudah bergabung dengan kelompok ekstrem Islamic State (IS). Saat kembali ke Indonesia, mereka sangat mungkin melakukan aksi teror. (Baca: Radikalisme dan Terorisme Adalah Buah Haram Wahabisme)

Ia memaparkan bagaimana kelompok esktremis mencuci otak WNI. Mereka diberi pemahaman bahwa jihad adalah jalan cepat menuju surga. “Shortcut (jalan pintas) ini yang diajarkan di tengah kegalauan, ketidakadilan, dan dipengaruhi oleh kelompok ekstrem untuk berkorban,” jelas Suhardi. (Baca: Banser: Semua Gerakan Anti NKRI Wajib Ditolak dan Dilawan Termasuk Khilafah)

Di samping itu, Suhardi sampai mendatangkan salah satu napi terorisme Bom Bali I di tahun 2002, Ali Imron, untuk menjadi masukan bagi panitia khusus (Pansus) RUU Terorisme di DPR.

Ali, kata Suhardi, menggambarkan bagaimana hebatnya kelompok teroris Afghanistan mengajarkannya membuat bom dan bertempur selama tiga tahun.

“Itu Bom Bali bagaimana saya mengimplementasikan ilmu saya di Afghanistan,” kata Suhardi sambil menirukan pernyataan Ali di depan Pansus. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment