Ketika Propaganda Kotor Media-Media Barat dan Nasional Makin Menguat

propaganda_media_menyesatkan.jpg

Kamis, 8 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, ARIZONA – Pengamat media Michael Goodwin mengatakan bahwa opini tunggal yang ditunjukkan media massa Amerika saat ini tidak pernah terjadi seperti sebelumnya. Media-media utama Amerika seperti CBS, NBC, ABC, New York Times dan Washington Post satu suara untuk mendepak Donald Trump dari persaingan perebutan kursi kepresidenan.

Hal yang sama bahkan juga disuarakan oleh media-media ‘setengah independent’ atau ‘oposisi terkendali’ seperti Counterpunch, meski mereka melakukannya dengan cara berbeda dengan media-media utama. Ketika Trump mendukung Amerika membayar kompensasi ke Iran $400 juta, Counterpunch menyindir Trump sebagai ‘tidak ingin menang’ dan menyebut sikap Trump tersebut keliru. Padahal, justru Trump dalam kasus ini telah menunjukkan sikap kenegarawanan.

control_media

Ia menyebut apa yang dialami Trump sama dengan yang dilakukan media massa Amerika terhadap Iran, dan ini adalah memalukan. Di sisi lain, publik Amerika sudah cukup cerdas untuk menentukan pilihannya sendiri di luar apa yang disampaikan media massa utama. [Baca; ALEPPO BERDARAH! Media Barat dan Radikal Tutupi Tragedi Pembantaian Keji di Suriah]

Trump sendiri telah menyadari ke-‘bajingan’-an media-media massa Amerika, sehingga pernah mengatakan, “Saya tidak melawan kejahatan Hillary, melainkan kejahatan media massa.”

“Kini, kesempatan untuk mengalahkan media-media ‘bajingan’ lebih besar dari sebelum-sebelumnya, ketika media-media massa utama dikalahkan oleh media sosial dan internet yang bebas. Media sosial tetap saja bisa bias, namun tidak sebesar media-media utama. Meski demikian, media-media utama harus dihancurkan, didemokrasikan dan didemonopoli. Kalau tidak, kita akan terus menerima propaganda kotor,” tulis Shamir.

“The Masters of Discourse (penguasa belakang layar) menyukai berita-berita untuk ‘digoreng’ menjadi alat untuk menguasai. Masih ingat anak kecil dari Suriah yang terdampar di Laut Mediterania? Ya, Aylan Kurdi.. Ini cerita yang menyedihkan, sangat tragis, namun ini telah digoreng sedemikian rupa sehingga Kanselir Jerman memproklamasikan untuk menerima para pengungsi Suriah. Inilah yang diinginkan oleh penguasa belakang layar, untuk membanjiri Eropa dengan pengungsi demi memperkuat ‘koalisi minoritas’ untuk menghancurkan negara-negara sejahtera dan menimbulkan runtuhnya Eropa sebagai entitas yang independent,” tambah Shamir. [Baca; Aylan dan Galip Kurdi, Bongkar Krisis Pengungsi Yang Tak Sanggup Ditutupi Media Barat]

propaganda_media

Masih ingat kisah bocah berlumuran darah duduk di kursi oranye? Ya, Omran Daqneesh.. Bocah lima tahun yang diabadikan gambar oleh seorang teroris bernama Mahmoud Raslan, yang menyamar jadi photographer, lalu digoreng media-media mainstream hingga menjadi viral, dan mendapat simpati dunia. Kemudian menuduhkan pasukan Suriah untuk bertanggung jawab atas kejahatan itu, dan menuntut serangan dan pengepungan teroris di Aleppo di hentikan.

“Mereka memilih gambar anak Suriah lainnya di Aleppo (bocah di kursi oranye), untuk mendorong intervensi militer. Kematian ini adalah hal yang tragis, seperti kematian ribuan anak-anak Suriah lainnya. Namun, jika saja Hillary Clinton tidak mengirimkan berkapal-kapal senjata ke Suriah, anak-anak itu tidak akan mati. Akankah intervensi militer barat akan mengembalikan mereka yang mati? Tidak,” tulis Shamir.

kontrol_zionis

  1. Drama Propaganda Bocah di Kursi Oranye.
  2. VIRAL! Drama Kebohongan Terbaru White Helmet “Bocah Terluka di Kursi Oranye”.

Di sisi lain, Shamir pun mengecam media massa yang suka mengejek para aktifis Palestina telah menyebarkan ‘pornografi perang’ karena menyebarkan gambar-gambar anak-anak Palestina korban kekejaman Israel.

“Jadi, para wartawan itu hanya bertindak saat para ‘tukang goreng’ membutuhkan mereka. Ini adalah manipulasi, bukan soal kasihan atau simpati.”

“Jika kita menginginkan perdamaian dan kesejahteraan, keadilan dan kemuliaan, kita harus menghentikan kebohongan media-media ‘bajingan’ itu kepada manusia. Para bajingan itu harus diluruskan, dan ini adalah pesan yang paling penting sekarang ini,” demikian kesimpulan Shamir.

corong_saudi

Dalam hal ini bahkan kami berpendapat bahwa ke-bajingan-an media-media massa Indonesia lebih besar dibandingkan media-media Amerika atau Eropa. Bahkan, negeri ini telah lama diserang media massa asing dan para pendukungnya, yang ingin mengusik kerukunan suku-suku, etnis dan masyarakat multikultur dalam beragama dan bernegara di nusantara.

Tentu kita masih ingat dengan gerakan wahabi di Indonesia, yang mensupport berdirinya ISIS atau kelompok-kelompok teroris yang berperang di Suriah, dengan bersumpah setia dan mengibarkan bendara ISIS atau al-Nusra dalam setiap demo atau momen tertentu. Gambar-gambar kegiatan mereka dapat kita jumpai dengan mudah di google atau situs-situs radikal yang pernah mengangkatnya.

Bahkan media-media radikal yang dibiayai oleh kerajaan Arab Saudi, begitu leluasa menyebarkan ideologi ekstrim wahabi, menyebar kebencian, mengkafirkan umara dan ulama Ahlisunnah, serta mempromosikan khilafah dan bid’ahkan Pancasila. [Voai]

Sumber:


Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment