Koalisi Arab Saudi-Israel Demi Menghadapi Iran

Hubungan Saudi-Israel

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Koran Kompas Rabu 27 Juli 2016, memuat sebuah analisa tentang hubungan Saudi dan Israel Untuk Hadapai Iran, berikut sebuah analisa menarik yang ditulis oleh Musthafa Abd Rahman dari Kairo Mesir.

Mungkin ini bisa disebut sebagai revolusi hubungan regional di Timur Tengah. Salah satu indicator utamanya, kedekatan hubungan Israil-Arab Saudi terakhir ini.

Siapa pun bisa mudah menebak, kedekatan hubungan Israel-Arab Saudi itu dilatarbelakangi oleh kedua Negara tersebut kini sedang menghadapi musuh bersama, yaitu Iran. (Baca: Para Jenderal Israel Sering Adakan Pertemuan dengan Pejabat Penting Saudi)

Arab Saudi melihat Iran sebagai pesaing utama karena gerakan ekspansi Iran di beberapa Negara Arab mengancam kepentingan Arab Saudi di Negara-negara Arab, seperti Arab, Suriah, Lebanon, dan Yaman.

Israel pun memandang Iran musuh utamanya di Timur Tengah karena ideologi rezim di Teheran dan kekuatan militernya dengan teknologi nuklir dan rudal balistik yang sangat maju.

Bentuk realisasi kedekatan hubungan Israel-Arab Saudi adalah kunjungan Direktur Kajian Strategis yang berbasis di kota Jeddah, Arab Saudi, Jendral (Purn) Anwar Eshki, ke Israel.

Didampingi sejumlah pengusaha dan akademisi Arab Saudi, Minggu (24/7), dia bertemu Sekjen Kementrian Luar Negeri Israel, Dore Gold dan coordinator Pemerintah Israel untuk urusan tepi barat , Jenderal Yoav Mordechai, di Hotel King David, Jerussalem. (Baca: Mujtahid Ungkap Tujuan Kedekatan Menhan Saudi dengan Zionis Israel)

Eshki telah bertemu Dore Gold, Juni 2015, di lembaga kajian strategis di Washington DC, AS, setelah beberapa kali bertemu rahasia di forum seminar.

Eshki juga bertemu dengan politisi Israel dari partai oposisi, seperti Essawi Farij dan Michal Rozin dari partai Meretz, serta Omer Bar-Lev dan Kasania Svetslova dari Partai Buruh. Ia juga bertemu Yair Lapid, pemimpin Partai Yesh Atid, yang menyerukan solusi konflik dengan Palestina melalui solusi regional secara komprehensif.

Sebuah artikel yang dirilis laman Bloomberg, 4 Juni 2015, menyebutkan sejak awal 2014 para pejabat Israel dan Arab Saudi setidaknya sudah lima kali menggelar pertemuan rahasia. Kelima pertemuan Israel-Arab Saudi terjadi dalam jangka waktu 17 bulan dan digelar di India, Italia, dan Ceko.

Bagi Israel menjalin hubungan dengan Arab Ssaudi adalah impian besar. Di mata Israel, Arab Saudi era modern telah menjelma jadi Negara kaya dengan cadangan minyak terbesar dunia dan produsen minyak mentah dunia: sekitar 11 juta barrel per hari. Dengan kekuatan ekonominya, Arab Saudi dinilai strategis di dunia Arab dan Islam.

Israel pun melihat Arab Saudi dahulu sebagai bagian wilayah tempat tinggal komunitas Yahudi. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, komunitas Yahudi sudah berada di kota Madinah. (Baca: Presiden Iran: Arab Saudi dan Israel Mencoba Blokir Kesepakatan Nuklir Iran)

Komunitas Yahudi di Jazirah Arab sempat punah, tetapi dalam catatan sejarah mereka kembali lagi ke Jazirah Arab, persisnya di  Provinsi Al Ahsa (Arab Saudi Timur), tahun 1871. Mereka datang dari Irak atas permintaan penguasa Ottoman.

Komunitas Yahudi kemudian hengkang lagi dari Jazirah Arab dan Timur Tengah (kecuali Iran dan Maroko) setelah muncul gerakan Zionis abad ke-19 dan berdiri di Negara Israel pada 1948.

Pasca berdirinya Negara Israel, hubungan Arab-Yahudi praktis tegang hingga terjadi perubahan peta hubungan di Kawasan Timur Tengah terakhir ini yang mendorong kembali dekatnya Israel dan sejumlah Negara Arab, termasuk Arab Saudi. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment