Konflik Suriah Meletus Karena Konspirasi Google, AS dan Al-Qaeda

Rabu, 17 Mei 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, WIKILEAKS – Google telah membantu Al-Qaeda dan kelompok Salafis lainnya seperti Ikhwanul Muslimin untuk merekrut anggota baru pada awal konflik Suriah. Dokumen dan e-mail rahasia yang diterbitkan oleh Wikileaks telah menunjukkan hal ini.

Direktur Google Ideas saat itu, Jared Cohen, mengkoordinasikan tindakan untuk mendukung kelompok-kelompok yang sering dijuluki sebagai pemberontak itu dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, dan Wakil Sekretaris Negara AS William Burns. Google memanfaatkan keahliannya di sektor Tekhnologi Informasi untuk membantu agar ‘konflik’ di Suriah mendapatkan daya tarik dari masyarakat seluruh dunia. (Baca juga:Diplomasi Dungu Saudi dan Amerika di Suriah)

Dokumen WikiLeaks mengungkap pada bulan Juli 2012, Google menawarkan untuk menyediakan sebuah perangkat lunak yang dengan itu akan membuat para pencari di mesinnya mudah melacak berita-berita soal ‘pemberontakan’ dan ‘kekejaman’ di Suriah yang menyudutkan presiden Bashar Assad dan menguntungkan oposisi, dengan bantuan saluran telvisi Al-Jazeera.

Siasat ini, menurut para pejabat A.S. dan Google, pasti mendorong lebih banyak orang untuk mengangkat senjata dan bergabung dengan barisan pemberontak. Kemudian Direktur Perencanaan Kebijakan untuk Obama, Jake Sullivan memberi tahu Hillary Clinton bahwa “ini adalah ide yang sangat briliant.” (Baca juga:Al-Jaafari: Barat Adalah Akar Penyebab Perang Suriah)

Pemerintahan A.S. pada tahun 2012 sudah menyadari fakta, bahwa oposisi dalam konflik Suriah terdiri dari kelompok Al-Qaeda dan kelompok Islam Radikal lainnya. Pemerintahan AS tahu persis bahwa “salafis, Ikhwanul Muslimin dan Al-Qaeda adalah kekuatan utama yang mendorong pemberontakan di Suriah.”

Selanjutnya, bangkitnya ISIS diantisipasi untuk menghasilkan Al Qaeda yang diberdayakan di sepanjang perbatasan Suriah-Irak: “Jika situasi di sana berhasil diatasi, ada kemungkinan untuk mendirikan sebuah kerajaan salafis yang akan diumumkan atau dideklarasikan di Suriah timur (Hasakah dan Deir Ezzor) dan inilah apa yang diinginkan negara-negara asing pendukung oposisi.” (Baca juga:Intelijen Rusia: AS Berusaha Hancurkan Suriah Sejak 30 Tahun Lalu)

AS yang semula menyatakan perang dengan Al-Qaeda selama 11 tahun pasca serangan WTC di New York, tampaknya sudah menjadi teman baik kelompok teror itu sejak tahun 2012. Sullivan menulis di surat lain yang melaporkan kepada Clinton tentang konflik Suriah pada tahun 2012 bahwa, “Al-Qaeda ada di pihak kita di Suriah.”

Google yang mencoba untuk mendapatkan kepercayaan pengguna dengan slogannya- Don’t be evil (Jangan menjadi jahat) – sejak tahun 2000, juga telah berevolusi. Pada tahun 2015 perusahaan itu telah direstrukturisasi, dengan Alfabet sekarang menjadi organisasi induk dari sub-cabang seperti Google, Verily and Google Ideas Google. Google juga menjadi bagian dari kompleks industri militer AS, yang menyediakan produk dan layanan penting untuk penyebaran dan kelangsungan operasi militer, seperti yang dinyatakan oleh direktur NSA, Keith Alexander. (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment