Mantan Perwira AD AS; Kudeta Gagal di Turki Telah Dirancang Oleh AS

1461f50e-eeb3-4e4c-a71d-fa4d4057b9.jpg

Rabu, 17 Agustus 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, CALIFORNIA – Upaya kudeta gagal di Turki mungkin telah dirancang untuk mengekspos niat benar Washington di negara itu, kata seorang mantan perwira Angkatan Darat AS di San Francisco, California.

Presiden Recep Tayyip Erdogan menuduh Washington telah memainkan peran dalam upaya kudeta gagal pada 15 Juli 2016.

Bahkan sebelum kejadian ini, Pentagon telah memerintahkan keluarga tentara AS dan personil sipil yang dikerahkan di Turki selatan untuk meninggalkan wilayah tersebut untuk alasan keamanan.

Upaya kudeta “telah menunjukkan AS sebagai pemain, setidaknya di badan lingkaran Central Intelligence Amerika dan lingkaran militer senior setidaknya mentoleransi, jika tidak memberdayakan, perencanaan dan pelaksanaan dari kudeta yang terjadi di Turki,” kata Scott Bennett, seorang mantan Angkatan Darat AS, petugas psikologis peperangan dan analis kontra-terorisme.

“Jadi saya pikir kecurigaan Turki dan permusuhan Erdogan terhadap Amerika Serikat cukup jelas dan cukup dibenarkan serta akan terus meningkat,” kata Bennett kepada Press TV pada hari Senin.

“Kudeta yang terjadi mengalami kegagalan yang luar biasa dari apa yang telah direncanakan, atau perangkap yang luar biasa yang dibuat oleh Erdogan sendiri dalam rangka mengekspos kedok Amerika Serikat dan militer senior,” tambahnya.

Kudeta “memiliki efek yang diinginkan dari mengekspos Amerika Serikat sebagai permisif jika tidak memusuhi Erdogan,” katanya.

Setelah upaya penggulingan, Ankara dilaporkan memutus aliran listrik ke pangkalan militer Incirlik yang digunakan oleh AS untuk melakukan serangan udara terhadap teroris ISIS di Irak dan Suriah.

Menurut pemikir di Washington, sejumlah besar senjata nuklir Amerika disimpan di pangkalan udara itu beresiko disita oleh “teroris atau kekuatan musuh lainnya.”

Pentagon telah menyimpan sekitar 50 bom atom di Incirlik, Turki selatan, sekitar 110 kilometer dari perbatasan dengan Suriah, di mana Washington dan Ankara terlibat dalam perang proxi terhadap negara itu, dan memberikan dukungan kepada kelompok teroris dalam melawan pemerintah Suriah dan rakyatnya.

Amerika Serikat konon menjaga persediaan senjata nuklir di Incirlik sebagai pencegahan atas operasi Rusia di Suriah dan untuk menunjukkan komitmen Washington dengan NATO. [VOAI]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment