Masjid Jadi Alat Politik Penyebar Kebencian, Indonesia Akan Jadi Pakistan?

Bandingkan dengan keadaan di Indonesia, khususnya di Jakarta betapa kaum fundamentalis merasuk sukma suci masjid di negeri ini, khususnya Jakarta, dengan ajaran-ajaran kebencian.

Jika dikatakan Ahok adalah sunbernya, maka itu adalah akal-akalan. Ahok sekedar pembuka jalan bagi kaum fundamentalis yang selama bertahun tahun bergerilya dari pengajian ke pengajian dengan tema sentral mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan mereka dengan balutan ayat-ayat suci Alquran. (Baca: Denny Siregar: Ahok Pintu Masuk Kelompok Radikal yang Ingin Suriahkan Indonesia)

SEJARAH YANG BERULANG

Seperti yang terjadi di masjid menolak mensholatkan jenasah muslim pendukung Ahok yang kata mereka adalah golongan munafik. Memang benar ada ayat yang melarang itu tapi definisi munafik adalah sangat subyektif. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengindahkan ayat tersebut sebagai cerminan kehati-hatian beliau menjuluki Ubay yang mengkhianatinya sebagai orang munafik. Karena itu Nabi tidak melarang umatnya ketika itu menshalatkan dan memandikan jenasah Ubay. (Baca: Terorisme dan Wahabi Alat Barat-Saudi Hancurkan Islam)

Ini disebabkan bahwa memandikan dan menguburkan jenasah adalah fardlu khifayah atau kewajiban sosial umat Muslim yang sudah tegas-tegas dikatakan Allah SWT. Jika ditinggalkan maka seluruh muslim di daerah itu berdosa. Fardlu khifayah adalah bagian dimensi ibadah sosial yang wajib dikerjakan unat Muslim. Itulah Islam sebenarnya yang mengutamakan ibadah sosial ketimbang ibadah individual.

Jika ibadah individual diutamakan dan dimensi sosial diabaikan maka sejarah tragis Usman Bin Affan kembali terulang. Sang Khalifah ini dibunuh oleh sesama Muslim.

Jenasahnya dibiarkan dua hari karena tidak ada yang mau memakamkannya di pekuburan Islam. Akhirnya, penggagas mushaf Alquran yang pembagian juznya kita ikuti sampai saat ini dikuburkan di pemakaman Yahudi. Jenasahnya diludahi dan bagian kakinya dipatahkan dengan teriakan caci maki dari sesama muslim.

Inilah awal perang saudara sesama muslim di jazirah Arab yang membinasakan seluruh keturunan Nabi. Sejak saat itu, Islam digunakan untuk memegang pedang penaklukan yang dalam perjalanannya diwarnai ratusan ribu pembantaian. Islam dipakai sebagai alat politik sama halnya dengan pencetus Perang Salib. Dua duanya sama sama barbar. (Baca: WASPADA! Inilah Ciri Manusia yang Terjangkit Wabah Takfirisme, Radikalisme, Ekstrimisme)

PENYEBAR ISLAM SEBENARNYA

Untungnya saja, selalu ada kelompok moderat yang selalu menjauhkan diri dari falsafah pedang dalam menyebarkan Islam secara merata di jagad ini. Termasuk di Indonesia, dimana Islam masuk melalui budaya, bukan pedang atau penaklukan. Sejarahpun berulang, ketika Islam dipakai untuk politik. Fakta menunjukkan bahwa kerajaan Islam di Indonesia juga hancur karena pertentangan dikalangan Islam sendiri yang kemudian dimanfaatkan habis-habisan oleh antek asing bernama Belanda.

Jika dilihat penyebabnya maka garis merahnya tetap sama dari mulai zaman Usman bin Affan hingga sekarang, yakni sesama muslim saling mengkafirkan satu sama lain dan mudah menjuluki munafik kepada sesama saudaranya yang berbeda pandangan. (Baca: Mufti Azhar: Bahaya Paham Pengkafiran)

Mereka yang gemar menuduh kafir dan munafik itu telah melampaui wewenang Tuhannya sendiri, yang antara lain menolak jenasah pendukung Ahok. Mereka menentang perintah Tuhan. . Merekalah yang sebenarnya menginjak-injak Alquran.

Orang-orang ini mungkin termasuk dalam golongan yang dikatakan Unar bin Khatab, “Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut”.

Dalam bahasa saya, orang-orang yang pasang spanduk itu.adalah golongan yang dibohongi dan di bodohi pakai Al Maidah 51. Yang diam seribu bahasa menyaksikan partai-partai Islam mendukung 22 calon non muslim. Tentu saja, mereka akan memandikan dan mensholatkan jenasah anggota partai pembajak Islam itu, bukankah mereka segolongan. (Baca: Jihadis dan Mujahidih Palsu Persembahkan Kenistaan Kepada Tuhan)

Jadi jika ada muslim pendukung Ahok yang wafat dan tidak ada yang mau memandikan serta menshalatkan, maka dengan segera ribuan orang yang memberikan penghormatan dan perlakuan layak bagi mereka. Karena kami adalah umat Muslim yang sebenarnya bukan mereka yang mabok agama hingga berani menentang Tuhannya. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment