Mustasyar PBNU Ajak Rakyat Indonesia Untuk Menjaga Keutuhan Bangsa

mbah_maimoen

Rabu, 16 November 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Maimoen) mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara. Hal ini mengingat kerap kali ditemukan orang atau kelompok orang yang terus berupaya memecah belah bangsa dan menganggu stabilitas negara dengan tindakan teror.

Ironisnya, sentimen SARA sering dihembuskan sebagai pemicu efektif terhadap kekacauan yang selama ini terjadi. Lain daripada itu, membawa-bawa agama dalam kepentingan politik juga menambah daftar kegagalpahaman sebagian kelompok dalam memaknai dasar negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan segala penguatnya.

“Pada masa sekarang ini, sudah tidak ada khalifah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional,” tegas Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menjelaskan, kalau dulu pada saat musim haji semua memakai bendera Islam, sekarang tidak. Mereka membawa bendera nasional, yakni bendera negara masing-masing.

“Misalnya di Amerika, tidak pakai simbol keislaman Amerika, yang ada simbol negara Amerika. Begitu juga dengan jemaah haji Indonesia, yang mereka bawa adalah bendera merah putih,” terang kiai yang kini telah berusia 88 tahun itu.

Pada era sekarang, menurut Mbah Maimoen, kalau bangsa dan negaranya tidak dijunjung, maka akan runtuh. Kebesaran Indonesia harus diiringi dan disesuaikan dengan ruh-ruh kebaikan agama yang mewarnai tradisi dan budaya sebagai identitas bangsa.

“Saat ini, kita harus menjunjung bangsa ini. Nabi Muhammad sendiri menjunjung bangsa Arab, karena Nabi berbangsa Arab sehingga Arab menjadi penguasa dan panutan bangsa-bangsa lain,” tutur Ulama kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 ini.

Menurut Mbah Maimoen, Tanah Air adalah pusat mempersatukan bangsa sekaligus kebesaran Islam. Ulama-ulama terdahulu sangat menjunjung tinggi bangsa ini. Sebelum NU berdiri, terlebih dahulu ulama pesantren mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Syubbanul Wathan (Pemuda Cinta Tanah Air), Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Perdagangan).

“Kenapa perdagangan? Karena itu akan menjadi pusat ekonomi. Dulu Nabi mengubah Bangsa Arab menjadi kebangkitan perdagangan, bukan negara pertanian atau negara industri,” tandas Mbah Maimoen. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment