Negeri Fir’aun Bergejolak, Mesir Diambang Kudeta Baru

kudeta_mesir.jpg

Kamis, 11 Agustus 2016,

MESIR, VOA-ISLAMNEWS.COM – Majalah The Economist edisi minggu ini dengan tajuk “Kehancuran Mesir”, melaporkan bahwa situasi ekonomi dan politik di negeri Fir’aun semakin merosot tajam, di mana anak-anak muda hanya punya dua pilihan antara migrasi atau bergabung dengan ekstrimis untuk mengatasi kehidupan mereka.

Setelah publikasi laporan majalah Economist, para pengamat politik dan ekonomi Mesir mereaksi keras laporan tersebut, dan menyerukan kepada pemerintah Mesir untuk tidak mempedulikan laporan itu yang jauh dari kenyataan. (Baca juga: Presiden Sisi Harapkan Hubungan Lebih Hangat antara Mesir dan Entitas Zionis)

Economist dalam laporannya menguraikan situasi ekonomi dan politik Mesir dan untuk memperkuat laporan, mereka mengutip informasi dan fakta-fakta yang tak terbantahkan. Laporan itu mengurai gambaran pesimis priode saat ini dan gambaran yang lebih pesimis tentang masa depan negara itu.

IMF kembali ke Mesir untuk memberikan paket pinjaman senilai $ 12 miliar selama tiga tahun. Pemerintah Mesir membutuhkan uang tunai, karena negara menghadapi anggaran besar dan defisit hampir 12% dan 7% dari PDB, sedangkan cadangan devisi Mesir semakin rendah. Belum lagi nilai tukar mata uang Mesir semakin tertekan, inflasi dua digit dan tingkat pengangguran lebih dari 12% melengkapi gambaran suram.

Surat kabar Rai al-Youm dalam mengomentari laporan majalah Economist yang menyebut prediksi kudeta baru dari anak-anak muda dan lebih ganas dari sebelumnya, menulis bahwa tingkat pengangguran pemuda Mesir melebihi 40% dalam beberapa bulan terakhir, situasi ini hanya menyisahkan dua pilihan baik dan buruk “imigrasi atau ekstrimis. (Baca juga: Penerjemah “ISIS”; Ulama Mesir Mohamed Hassan Mengirim Saya ke Suriah)

Mesir Diambang Kudeta

Majalah itu juga menulis; Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi lebih represif dari Hosni Mubarak (diktator yang dikudeta) dan tidak kompeten dari pada Morsi (yang telah dilengserkan). Pemerintahan Sisi dalam keadaan sekarat dan hanya bisa bernapas dengan sumbangan dari negara-negara Arab Teluk Persia.

Mesir bukan hanya dililit masalah keuangan, tetapi juga dengan masalah lain, seperti korupsi, birokrasi semrawut, menurunnya layanan pendidikan, berkurangnya tingkat layanan publik, manajemen yang tidak tepat di berbagai bidang,  kegagalan lembaga pemerintah, ketidak patuhan terhadap hukum dalam perekrutan tenaga kerja, tidak adanya dorongan pada para pelaku industri, meningkatnya perbedaan kelas, dan meningkatnya angka pegangguran. (Baca Juga: Mesir Bersihkan Masjid dan Perpustakan dari Buku-Buku Wahabi)

The Economist menyatakan bahwa keputusan Adel Fattah El-Sisi yang tidak ingin berpartisipasi dalam pemilihan presiden pada 2018 adalah langkah yang benar. Namun, para pejabat Mesir berang atas keputusan El-Sisi, karena mereka menyakini bahwa permintaan kepada El-Sisi untuk tidak ikut dalam pemilihan presiden adalah mencampuri urusan dalam negeri Mesir secara terang-terangan. Tetapi mereka seharusnya melihat bahwa negara pada situasi politik yang sulit. Sebuah situasi yang telah mencapai tingkat kritis, dan penyebab situasi ini adalah konflik antara pemerintah dan rakyat, yang bersumber pada tidak terpenuhinya harapan rakyat seperti “pembentukan parlemen yang sehat, sikap masyarakat terhadap hak dan kebebasan, adanya peradilan yang independen dan terwujudnya keadilan sosial”. Sementara rakyat Mesir pada pemberontakan bulan Februari 2011 lalu, bercita-cita mewujudkan tuntutan tersebut. (Baca juga: Mufti Mesir Serukan Peringatan Maulid dan Abaikan Fatwa Wahabi)

Sebenarnya, masyarakat Mesir tidak butuh laporan majalah Economist untuk menyadarkan mereka dari situasi ekonomi dan politik yang amburadul. Karena setiap hari mereka dihadapkan dengan situasi ini, harga kebutuhan melonjak, pencabutan subsidi serta pengangguran yang terus meroket. Yang dibutuhkan rakyat Mesir adalah pemimpin yang mampu mengelolah dan memperbaiki sistem pemerintahan untuk meningkatan koeksistensi politik, ekonomi dan sosial serta menciptakan kedamaian antara pemeluk agama yang berbeda. (VOAI)

Sumber; Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment