Panglima ISIS Asal Pasuruan “Abu Jandal” Tewas di Mosul

abu-jandal

VOA-ISLAMNEWS.COM, PASURUAN – Polres Kota Pasuruan terus melakukan pendalaman terkait kabar tewasnya Abu Jandal, panglima ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) asal Pasuruan, Jawa Timur. Pemantauan juga dilakukan terkait tersebarnya kabar ada undangan jumpa pers.

“Sekarang masih dilakukan penyelidikan. Tidak ada aktivitas (jumpa pers) di lokasi,” kata AKBP Yong Ferrydjon, Kapolres Kota Pasuruan melalui telepon, Rabu (9/11).

Sebelumnya muncul pesan berantai mengabarkan meninggalnya Abu Jandal, panglima militer ISIS asal Pasuruan. Pria pemilik nama Salim Mubarak Attamimi itu dikabarkan meninggal di Suriah.

Berdasarkan pengakuan keluarga Abu Jandal, lanjutnya, informasi kematian itu diperoleh dari istri Abu Jandal bernama Silvi yang berada di Suriah. Namun, kata Boy, informasi dari pihak keluarga itu masih perlu ditelusuri.

“Ini masih perlu ditelusuri lebih lanjut, dan tentunya nanti akan dilakukan identifikasi untuk memastikan apakah ini benar Jenazah Salim Mubarok Atamimi alias Abu Jandal. Jadi prosedurnya seperti itu,” ujarnya.

“Keluarganya membenarkan iya menerima informasi itu. Hanya masalahnya kalau jenazah tiba, bagaimana kita membuktikan itu dengan proses identifikasi,” urainya seraya menambahkan Polri juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

Kata BNPT Soal Kabar Kematian Abu Jandal

Deputi Kerja Sama Internasional BNPT Irjen Petrus Golose mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kebenaran informasi itu. Informasi tersebut harus dicek lebih jauh.

“Kita informasi tidak bisa hanya bergantung dari cyber space. Kita harus cek sidik jari DNA saudara kandung. TIdak bisa ditentukan yang bersangkutan sudah meninggal dunia sampai (dilakukan) itu,” kata Petrus di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (9/11/2016).

Petrus mengatakan ini bukan yang pertama Abu Jandal dikabarkan tewas. Pria asal Jawa Timur itu juga pernah dikabarkan tewas 2015 lalu. Tidak hanya Abu Jandal, teroris Dulmatin juga pernah tiga kali dikabarkan tewas hingga akhirnya benar tewas di Pamulang beberapa tahun lalu.

“Saya barusan mengirim dari tim kami (ke Suriah). Mengirim anggota baik di Damaskus baik ke Iraq. Sama kesulitan. Karena buffer zone ini sulit dilakukan penegakan hukum,” ujarnya.

“Informasi mungkin dibuat orang lain diterima keluarga dan terus berantai. Ini sulit ketika informasi open source sekarang berlebihan. Ini sudah kedua kali (dikabarkan) mati,” urainya. [voai]

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment