Pasca Demo 4 November, Jokowi Lakukan Safari Politik ke Ormas Islam

safari_politik_jokowi

Kamis, 10 November 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Kunjungan bergiliran yang dilakukan Presiden Jokowi kepada beberapa ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, hemat saya penting dilakukan untuk menyerap informasi dan aspirasi dari umat Islam melalui organisasi tersebut, khususnya untuk mendengar secara langsung respon terkait demo 411. Selain menyerap informasi dan aspirasi, safari politik tersebut juga penting maknanya karena hal itu adalah refleksi dari sikap menghormati para pemimpin organisasi massa Islam, yang dalam sejarah perjuangan RI, termasuk ujung tombak baik saat negeri ini masih belum lahir maupun saat negeri ini mengalami cobaan.

Aksi massa pada 4/11/16 merupakan peristiwa politik yang mempunyai makna signifikan bagi Pemerintah Presiden Jokowi, terlepas dari berbagai pendapat pro dan kontra terhadap tujuan dan targetnya. Presiden Jokowi tentu saja berkepentingan menjalin komunikasi intensif semua pihak yang memiliki pengaruh dalam masyarakat sipil agar bisa membantu meredam gejolak ataupun dampak ikutan yang mungkin terjadi.

Tentu saja merupakan hak Presiden Jokowi untuk memilih pihak mana, baik individu maupun kelompok, yang akan beliau kunjungi karena tentu beliau juga telah memikirkan secara matang langkah komunikasi politik tersebut. Jadi jika seandainya saran agar Presiden Jokowi menemui FPI tidak diikuti oleh beliau, hal itu tentu karena ada pertimbangan strategis maupun taktis. Bisa jadi hal itu hanya soal waktu saja, atau memang beliau tidak memilih ormas tersebut sebagai pihak yang diajak berkomunikasi.

Dalam pandangan saya, kalaupun Presiden Jokowi tidak bertemu dengan FPI, hal itu bisa dipahami dan logis saja. Sebab apa yang menjadi aspirasi ormas tersebut, terkait proses hukum terhadap Gubernur DKI non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, telah terpenuhi. Proses hukum yang dipercepat oleh Kapolri, Jenderal M. Tito Karnavian telah berjalan dan akan segera sampai ke tahapan gelar perkara. Sedangkan ormas seperti NU dan Muhammadiyah memiliki posisi strategis yang berbeda sehingga dipilih untuk dikunjungi langsung.

Dan ternyata hasil kunjungan terhadap dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu, dianggap Presiden Jokowi sebagai masukan yang bernilai penting. Bukan berarti masukan-masukan mereka akan diterima secara total, tetapi jelas menjadi bahan pertimbangan dalam penyelesaian masalah yang berimplikasi strategis itu. Apa yang saya istilahkan dengan model “blusukan ke atas” oleh Presiden Jokowi secara konsisten dilakukan, pasca-pertemuan Hambalang. Inilah strategi komunikasi politik ‘jemput bola’ atau proaktif yang efektif untuk mendinginkan suasana sambil mengupayakan titik-titik kesepahaman bersama.

Presiden Jokowi cukup arif untuk tidak merespon langsung terhadap kritik-kritik tajam yang disuarakan oleh kedua petinggi ormas-ormas Islam tersebut, bahkan sebaliknya menganggapnya sebagai “masukan yang bagus” dan “yang belum baik akan kita perbaiki.” Beliau juga menyampaikan bahwa sebagai manusia, beliau mengakui “penuh dengan kesalahan, penuh dengan kekurangan.” Apakah makna dari statemen “low profile” alias “nylondohi” dari tradisi Jawa itu? Bagi orang Jawa yang punya pemahaman yang mendalam, ia adalah sebuah isyarat bahwa beliau siap menerima masukan tetapi juga menunjukkan bahwa pihak lain juga perlu melakukan introspeksi. [voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment