PBB Gelar Pertemuan Darurat Bahas Eskalasi Pertempuran di Aleppo

a702f0f7-109b-4126-bb66-a7c841684.jpg

Minggu, 25 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, NEW YORK – Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengatur pertemuan darurat untuk membahas eskalasi pertempuran di Aleppo.

Pertemuan darurat atas permintaan AS, Inggris dan Prancis, yang dijadwalkan akan diadakan pada pukul 11:00 waktu New York pada hari Minggu.

Permintaan datang setelah kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Barat dan sekutu regionalnya  mengalami serangkaian kerugian di medan perang dalam melawan pasukan Suriah.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan bahwa ia “terkejut atas eskalasi militer dingin” di Aleppo, dan memperingatkan bahwa penggunaan persenjataan canggih di kota yang diperangi bisa menjadi kejahatan perang.

Badan dunia mengatakan dua juta warga sipil telah dibiarkan tanpa air di Aleppo setelah pengeboman yang merusak instalasi pompa air oleh militan dan menutup sejumlah fasilitas lain.

“Serangan intens tadi malam telah merusak instalasi pemompaan air Bab al-Nayrab, yang memasok air ke sekitar 250.000 orang di bagian timur Aleppo,” badan anak-anak PBB UNICEF mengatakan, dan menambahkan “pertempuran sengit telah mencegah tim perbaikan untuk mencapai isntalasi.”

Aleppo, kota terbesar kedua Suriah, telah terbagi menjadi dua sejak 2012 antara pasukan pemerintah di barat dan teroris di timur, serta membuatnya menjadi medan pertempuran garis depan.

Sebuah gencatan senjata selama seminggu, yang ditengahi oleh Rusia dan Amerika Serikat, berakhir pada 19 September, setelah serangan AS pada posisi militer di Deir Ezzor.

Serangan udara yang menewaskan lebih dari 80 tentara Suriah dan sekitar 100 lainnya luka-luka, membuka jalan bagi para militan Takfiri untuk membuat beberapa keuntungan di daerah tersebut.

Suriah mengumumkan dimulainya operasi militer baru di Aleppo yang bertujuan mengusir para teroris yang didukung asing yang menduduki sisi-sisi timur kota strategis.

Upaya untuk menghidupkan kembali penghentian permusuhan di Suriah telah gagal sejauh ini.

Pada hari Sabtu, militer Suriah mengatakan bahwa pasukan mereka telah berhasil merebut kembali kendali Handarat, sebuah kamp pengungsi Palestina yang terletak di utara Aleppo, dari militan.

Kemudian, beberapa media yang berafiliasi dengan kelompok-kelompok militan mengklaim bahwa mereka telah sekali lagi merebut kamp Handarat.

Namun, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan bahwa upaya oleh gerilyawan untuk mengambil alih kembali kamp Handarat, sejauh ini telah gagal.

Direktur SOHR Rami Abdulrahman kepada France 24 bahwa situs itu masih dikendalikan oleh pasukan Suriah meskipun bentrokan dengan teroris di sekitar kamp masih terjadi. Bantuan kemanusiaan sedang dikirim ke distrik Aleppo, katanya.

Selain itu, kantor berita resmi Suriah SANA melaporkan bahwa pasukan Suriah telah berhasil membubarkan para militan dari seluruh kamp Handarat.

Sebuah unit tentara Suriah membunuh sejumlah teroris ISIS dekat dengan perguruan tinggi penerbangan di pinggiran timur Aleppo dan menghancurkan dua kendaraan mereka yang membawa senapan mesin, laporan tersebut menambahkan.

Sementara itu, Kolonel Fares al-Bayoush, kepala Divisi Utara yang disebut Tentara Pembebasan Suriah (FSA), mengatakan bahwa ia mengharapkan pengiriman bantuan “senjata berat, seperti peluncur roket dan artileri” dari sponsor mereka seperti AS dan Arab Saudi.

Di tempat lain di provinsi Idlib, Angkatan Udara Suriah menghancurkan kendaraan dan peralatan militer milik elemen teroris, menurut laporan tersebut.

Suriah telah dicengkeram oleh militansi yang didukung asing selama lima setengah tahun terakhir. Dalam beberapa bulan terakhir, para militan Takfiri telah mengalami kemunduran besar karena tentara Suriah telah berhasil membebaskan beberapa daerah. [VOAI]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment