Pemboman Brutal Pemakaman di Yaman, Akhirnya Saudi Akui sebagai Pelaku

pemboman-saudi

Minggu, 16 Oktober 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, RIYADH – Kebrutalan yang terjadi di yaman, Arab Saudi yang semula menolak mengakui akhirnya membenarkan bahwa pihaknya adalah pelaku pemboman disebuah upacara pemakaman yang menewaskan ratusan orang secara mengerikan di ibukota Yaman, Sana’a. Namun pengakuan Arab Saudi pada Sabtu (15/10) kemarin dibarengi dengan alasan bahwa pemboman tersebut dilakukan atas dasar kesalahan informasi target serangan.

“Tim (peneliti) menyimpulkan bahwa para wakil dari Markas Umum Yaman telah menyediakan informasi yang kemudian terbukti salah untuk kantor operasi angkatan udara, mengenai lokasi yang tepat dari keberadaan pemimpin militer Houthi di Sana’a,” kata pernyataan koalisi , seperti dikutip oleh Al Arabiya. (Baca juga: Akhirnya Saudi Mengakui Serangan Brutalnya di Yaman Pasca Dikecam Dunia)

Selain itu, koalisi menekankan bahwa penyerangan yang seharusnya dilakukan terhadap sasaran militer itu belum disepakati Komando Pusat koalisi.

Koalisi juga mengakui perlunya untuk mengambil langkah-langkah hukum mengenai mereka yang bertanggung jawab atas insiden itu dan mulai memberikan keluarga korban dengan kompensasi. (Baca juga: Houthi: Pembantaian Sana’a Tunjukkan Frustasi AS dan Saudi dalam Perang Yaman)

Pada tanggal 8 Oktober, serangan udara menghantam upacara pemakaman di Sana’a. Menurut perkiraan PBB, serangan itu menewaskan lebih dari 140 nyawa (sumber Yaman menyebut lebih dari 720 nyawa) dan menyebabkan ratusan lainnya terluka. Awalnya, koalisi yang dipimpin Arab Saudi membantah sebagai pelaku tindakan sadis pemboman tersebut, namun, kemudian setelah mendapat kecaman dari banyak pihak termasuk PBB, Saudi menyatakan setuju untuk menyelidiki masalah ini.

Arab Saudi telah terlibat dalam kampanye mematikan terhadap Yaman sejak agresi Maret 2015. Riyadh, telah menewaskan lebih dari 10.000 di Yaman, demi memulihkan kekuasaan untuk Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, sekutu setia Riyadh yang telah mengundurkan diri nya sebagai presiden Yaman tetapi berusaha memaksa masuk kembali ke dalam kekuasaan. Kampanye ini juga berupaya untuk melemahkan gerakan Houthi Ansarullah.

PBB menyebutkan korban tewas dari agresi militer di sekitar 10.000. UNICEF mengumumkan pada 4 Oktober bahwa kekerasan telah membuat lebih dari dua juta anak putus sekolah di Yaman. (ARN)

Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment