Pemerintah Rwanda Selidiki Keterlibatan Perancis dalam Genosida 1994

rwandagenocide

Kamis, 1 Desember 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, KIGALI – Rwanda telah membuka penyelidikan resmi terhadap dugaan peran 20 pejabat Perancis dalam genosida tahun 1994.

Pemerintah Rwanda menuduh Prancis terlibat dalam genosida itu. Para pejabat Perancis dituduh mendukung pemerintah nasionalis Hutu, yang melakukan pembunuhan massal terhadap sekitar 500.000 sampai 1.000.000 orang Rwanda, terutama dari kelompok etnis Tutsi. Paris sendiri membantah tuduhan itu.

“Penyelidikan, untuk saat ini, difokuskan pada 20 individu,” kata penuntut umum Rwanda Richard Muhumuza.

Ia menambahkan bahwa penyelidikan akan memungkinkan jaksa untuk memutuskan “apakah individu yang bersangkutan harus secara formal didakwa atau tidak.”

Muhumuza mengatakan bahwa ia telah menghubungi pemerintah Perancis dan berharap kerja sama penuh.

Genosida Rwanda dimulai menyusul Peristiwa tanggal 6 April 1994, ketika Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana menjadi korban penembakan saat berada di dalam pesawat terbang. Beberapa sumber menyebutkan Juvenal Habyarimana tengah berada di dalam sebuah helikopter pemberian pemerintah Perancis.

Saat itu, Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu berada dalam satu heli dengan presiden Burundi, Cyprien Ntarymira. Mereka baru saja menghadiri pertemuan di Tanzania untuk membahas masalah Burundi. Sebagian sumber menyebutkan pesawat yang digunakan bukanlah helikopter melainkan pesawat jenis jet kecil Dassault Falcon.

Peristiwa tragis penembakan Presiden Habyarimana kontan mengakhiri masa 2 tahun pemerintahannya. Lebih mengerikan lagi, peristiwa ini memicu pembantaian etnis besar-besaran di Rwanda. Hanya dalam beberapa jam setelah Habyarimana terbunuh, seluruh tempat di Rwanda langsung diblokade.

Pasukan khusus Pengawal Presiden dengan bantuan instruktur Perancis segera beraksi. Mereka bekerja sama dengan kelompok militan Rwanda, Interahamwe dan Impuzamugambi.

Dimulai dari ibu kota Rwanda, ketiga kelompok bersenjata itu mulai membunuh siapa saja yang mendukung piagam Arusha tanpa memedulikan status dan sebagainya. Perdana Menteri Rwanda yang berasal dari suku Tutsi tak lepas dari pembunuhan kelompok bersenjata. Selain dia, masih ada nama-nama dari kalangan menteri, pastor dan siapa saja yang mendukung maupun terlibat dalam negosiasi piagam Arusha.

Sebagian besar korban digeletakkan begitu saja dan tidak dimakamkan secara layak. Paling umum saat itu hanyalah ditimbun dengan tanah sekadarnya. Pegunungan Gisozi disinyalir menjadi tempat pemakaman massal. Di tempat ini diperkirakan terdapat 250.000 jasad warga tak berdosa korban konspirasi keji. Dikatakan konspirasi, karena kemudian berkembang cerita bahwa kudeta ini dilakukan pemimpin Front Patriotik Rwanda, RPF (Rwandan Patriotic Front) yaitu Paul Kagame. Usai pembunuhan massal, Kagame tampil sebagai Presiden mengantikan Habyarimana. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment