PENEMUAN! Mineral Langka Senilai 1 Triliun Dolar Terungkap di Bumi Afghanistan

rare-earth-minerals.jpg

Sabtu, 19 November 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, KABUL – Afghanistan, negara yang tidak pernah berhenti dilanda konflik pasca AS menancapkan kukunya dengan alasan membasmi teror Thaliban yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa 11 September, menurut sebuah penelitian ternyata memiliki kekayaan alam sangat besar. Besarnya kekayaan alam Afghanistan ini diungkap oleh para ilmuwan Amerika sebagaimana dilaporkan Live Sciene dua pekan lalu. (Baca juga: ICC Umumkan AS dan CIA Mungkin Terlibat Kejahatan Perang di Afghanistan)

Meskipun menjadi salah satu negara termiskin di dunia, Afghanistan ternyata merupakan negara dengan sumber mineral terkaya di dunia, dengan nilai hampir 1 triliun dolar. Nilai kekayaan ini didapat berdasarkan studi yang dilakukan oleh para ilmuwan AS.

Afghanistan, sebuah negara hampir ukuran Texas itu ternyata sarat dengan mineral mengendap akibat terjadinya benturan keras dari anak benua India dengan Asia. US Geological Survey (USGS), badan yang melakukan penelitian ini mulai menyelidiki apa saja sumber daya mineral yang dimiliki Afghanistan setelah pasukan pimpinan AS mengusir Taliban dari kekuasaan di negara itu pada tahun 2004. Saat itu staf Afghanistan Geological Survey menemukan peta geologi dan laporan Soviet berusia lebih dari 50 tahun yang mengisyaratkan adanya tambang emas geologi di negara itu.

Pada tahun 2006, peneliti AS melaksanakan misi terbang udara untuk melakukan survei hiperspektral magnetik, dan gravitasi di atas Afghanistan. Survei magnetik menyelidiki kandungan mineral besi tanah hingga 6 mil (10 kilometer) di bawah permukaan, sedangkan survei gravitasi mencoba untuk mengidentifikasi cekungan sedimen yang berpotensi kaya minyak dan gas. Survei hiperspektral untuk melihat spektrum cahaya yang dipantulkan dari batu untuk mengidentifikasi tanda cahaya unik untuk setiap mineral. Lebih dari 70 persen dari negara itu dipetakan hanya dalam waktu dua bulan.

Survei tersebut memverifikasi semua temuan Soviet yang terdapat dalam peta dan laporan yang ditemukan. Bumi Afghanistan kemungkinan mengandung 60 juta ton tembaga, 2,2 miliar ton bijih besi, 1,4 juta ton unsur tanah langka seperti lantanum, cerium dan neodymium, dan lodes aluminium, emas, perak, seng, merkuri dan lithium.Contohnya, kandungan carbonatite Khanneshin di provinsi Helmand Afghanistan saja, memiliki nilai 89 miliar dolar, karena wilayah tersebut penuh dengan unsur tanah yang jarang tersebut. (Baca juga: “Sharbat Gula” Gadis Ikon Pengungsi Afghanistan Terancam Dipenjara 14 Tahun)

“Afghanistan adalah negara yang sangat, sangat kaya akan sumber daya mineral,” ungkap Jack Medlin, seorang ahli geologi dan manajer program proyek Afghanistan Geological Survey AS, kepada Live Science. “Kami telah mengidentifikasi potensi kandungan setidaknya 24 mineral kelas dunia,” tambahnya. Hasil kerja para ilmuwan tersebut terinci dalam jurnal Science yang dirilis pada 15 Agustus.

AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada 7 Oktober 2001 sebagai bagian dari apa yang disebut Washington sebagai perang melawan teror (baca;mujahidin). Serangan itu menggulingkan Taliban dari pemerintahan mereka yang sah, tetapi setelah sekitar satu setengah dekade, pasukan asing masih belum mampu menundukkan perjuang bersenjata Taliban untuk merebut kembali kekuasaan dan membangun keamanan bagi pemerintahan boneka mereka di negara itu.

Setelah menjadi presiden pada tahun 2008, Obama berjanji untuk mengakhiri perang Afghanistan – salah satu konflik terlama dalam sejarah AS.

Pada Oktober tahun 2015, Obama mengumumkan rencana untuk menarik 9.800 tentara AS di Afghanistan sampai 2016 dan 5500 pada tahun 2017, mengingkari janjinya untuk mengakhiri perang di sana dan untuk membawa pulang seluruh pasukan Amerika dari negara Asia tersebut sebelum ia meninggalkan kantor. (Baca juga: Pengadilan Kriminal Internasional Segera Selidiki Kejahatan Perang AS di Afghanistan)

Sementara itu, pada hari Senin (14/11),Kepala jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Fatou Bensouda, telah mengumumkan bahwa militer AS dan CIA mungkin bersalah telah melakukan kejahatan perang di Afghanistan.

Bensouda membuat pengumuman ini saat memperkenalkan hasil penyelidikan awal yang diluncurkan mengenai tindakan AS di negara itu, yang terutama terjadi antara tahun 2003 dan 2004 dalam interogasi “kejam dan sadis” terhadap para tahanan. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment