Pertemuan13 jam Lavrov-Kerry Hasilkan Kesepakatan Gencatan Senjata Baru di Suriah

screenshot007.jpg

Sabtu, 10 September 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, JENEWA – Membuka kembali konferensi pers yang ditunggu-tunggu wartawan setelah pembicraan selama 13 jam lamanya, Menlu Rusia mengumumkan bahwa Rusia dan AS akhirnya menyetujui rencana gencatan senjata baru di Suriah yang mencakup larangan serangan udara pemerintah di daerah tertentu dan kerjasama serangan terhadap para jihadis.

Setelah pembicaraan maraton dengan rekan Rusianya, Menlu AS, John Kerry mengatakan bahwa kedua pihak telah menyepakati pendekatan yang komprehensif untuk rekonsiliasi Suriah. Ia menyeru “pada setiap pemangku kepentingan Suriah untuk mendukung rencana yang telah dicapai Amerika Serikat dan Rusia untuk … membawa konflik bencana ini untuk berakhir secepat mungkin melalui proses politik.” (Baca juga: Pembicaraan Lavrov-Kerry Masih Belum Hasilkan Apa-apa)

Menurut Kerry, rencananya adalah untuk memastikan bahwa pasukan pemerintah Suriah tidak akan melakukan misi tempur di mana apa yang disebut oposisi moderat hadir. Berbicara tentang perang melawan Al-Nusra dan upaya untuk berbaur dengan pemberontak moderat, Kerry menekankan ” Al-Nusra bukanlah konsesi untuk siapa pun” tetapi “adalah dalam kepentingan AS.”

Kerry juga menguraikan pendirian Russian-US Joint Implementation Centre (JIG) yang akan melayani tujuan “deliniasi wilayah yang dikuasai oleh Al-Nusra dan kelompok-kelompok oposisi di daerah permusuhan yang aktif.” (Baca juga: Lavrov-Kerry Adakan Pertemuan di Jenewa Terkait Suriah)

Sementara itu, Menlu Rusia menegaskan bahwa Rusia dan AS telah setuju untuk mengkoordinasikan serangan udara di Suriah, “asalkan ada periode waktu yang berkelanjutan agar kekerasan berkurang.”

“Langkah pertama menuju pelaksanaan klausul ini akan menjadi gencatan senjata 48 jam di Suriah,” kata Lavrov sebagaimana dikutip Russia Today. Lavrov menjelaskan bahwa gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 12 September dan harus bertahan setidaknya tujuh hari.

“Setelah gencatan senjata berlaku selama tujuh hari, kami akan mendirikan pusat pelaksanaan, di mana perwakilan militer dari intelijen Rusia dan AS akan menangani isu-isu praktis, memisahkan teroris dan oposisi,” tambahnya.

Lavrov mengatakan bahwa diplomat telah menegosiasikan lima dokumen terpisah dalam pembicaraan.

“Meskipun ada ketidakpercayaan dan upaya untuk mengganggu apa yang telah kami sepakati, kami berhasil untuk mengerjakan sepaket dokumen, ada lima dari mereka. Hal ini memungkinkan kami untuk mengatur koordinasi yang efektif dalam memerangi terorisme, untuk memperluas akses kemanusiaan kepada penduduk yang tertindas, utamanya di Aleppo, “kata Lavrov.

“Karena sifat sensitif dari informasi yang terdapat dalam perjanjian, maka hal itu tidak dapat dipublikasikan,” tambahnya.

Lavrov menekankan pentingnya partisipasi semua kelompok oposisi yang termasuk dalam negosiasi untuk keberhasilan proses rekonsiliasi.

“Ini adalah permintaan dari Dewan Keamanan PBB. Resolusi 2254 menyatakan bahwa negosiasi harus inklusif, dengan partisipasi dari semua pihak Suriah, termasuk kelompok-kelompok yang telah dibentuk di Moskow, Kairo, El-Riyadh dan tempat-tempat lain, “katanya.

Menlu Rusia itu menambahkan bahwa ada provokasi oleh beberapa negara tertentu yang bertujuan untuk menggambarkan salah satu kelompok sebagai satu-satunya wakil sah dari oposisi Suriah dalam pembicaraan. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment