Pesan Nasionalisme dan Bela Negara dari Denny Siregar

garuda-didadaku.png

Senin, 01 Agustus 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Semakin beraninya kelompok radikal dan ekstrimis mengobok-obok pemerintahan dan NKRI, salah satu pegiat media sosial Denny Siregar dalam web nya menulis tentang pentingnya mengembalikan rasa Nasionalisme dan bela Negara kepada anak bangsa. Inilah surat protes Denny Siregar Kepada Negara, berikut tulisannya:

PAKDE JOKOWI KITA DALAM BAHAYA

Pakde Jokowi, kita dalam bahaya. Keutuhan bangsa kita sedang dirusak oleh kaum-kaum intoleran yang memakai baju ormas, suku dan agama. Mereka selalu bersembunyi di balik kata “pelecehan” tapi sebenarnya mereka punya agenda. Mereka membangun kebanggaan kelompok dan menebalkan perbedaan. Mereka membangun komunitas berakal lemah, karena hanya yang lemah akalnya-lah yang bisa mereka cuci otaknya. (Baca juga: Pemilik “Arrahmah” Mantan Teroris dari Keluarga Pendukung Al-Qaeda Fitnah Media Aswaja ArrahmahNews.com)

Apa tidak capek bapak selalu diganggu kinerjanya dengan api-api kerusuhan di titik-titik rawan konflik yang terus di kobarkan untuk menunjukkan pada investor bahwa Indonesia bukan tempat yang aman?

Bapak tinggal tugaskan Menteri Pendidikan untuk mulai kembali menatar Kepala Sekolah baik negeri maupun swasta, supaya mereka wajib meninggikan nilai-nilai kebangsaan diatas nilai agama, karena kita hanya mengenal satu bangsa dan bukan satu agama. Wajibkan kepala sekolah untuk mengadakan upacara hormat bendera di sekolah.

Wajibkan sekolah untuk memutar lagu-lagu kebangsaan saat istirahat jam sekolah. Doktrin perpecahan lawan dengan doktrin persatuan.

Perbanyak pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Nilai kebangsaan ini sangat penting dibanding nilai pelajaran, karena sekolah seharusnya mencetak manusia yang mempunyai nilai kepada manusia lain bukan semata statistik angka. (Baca juga: Buku Anak TK yang Ajarkan Radikalisme Ditulis oleh Istri Laskar Jihad Solo)

Bapak tinggal perintahkan Menteri Agama untuk melakukan sertifikasi kepada guru-guru agama di sekolah bekerjasama dengan NU dan Muhammadiyah. Jangan MUI karena mereka sudah mata duitan. NU dan Muhammadiyah sudah terbukti nasionalismenya dalam membela NKRI.

Guru-guru agama di sekolah harus punya standar pemberian pelajaran agama sesuai nilai Pancasila, bukan nilai negara khalifah. (Baca juga: Gus Tutut; Kritik Aparat yang Lakukan Pembiaran Terhadap Paham Kekerasan dan Pecah-Belah Persatuan)

Bapak tinggal perintahkan Menkominfo untuk mulai memblokir situs-situs berbau perpecahan. Jangan cuma teguran, karena buat mereka ditegur itu sama saja menaikkan semangat untuk perang.

Komisi Penyiaran Indonesia jangan diisi orang partai seperti ditemukannya seorang Komisioner yang ternyata orang PKS. Golongan itu hanya sibuk mem-blur paha dan dada, tanpa memahami esensi bahwa bahaya terbesar media adalah doktrin-doktrin yang berbahaya.

(Baca juga: #DennySiregar: Hello PKS, Bukalah Topengmu)

Sinetron-sinetron yang sama sekali tidak mendidik jangan cuman dikasi rapor merah, mereka bukan anak SD yang nangis takut dimarahin bapak ibunya. Cabut penayangannya, dan perintahkan stasiun televisi untuk membuat komitmen dengan seluruh Production House untuk membuat sinetron dengan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

Terutama bapak sinetron Indonesia, Raam Punjabi, perintahkan hormat bendera setiap pagi di balai kota biar beliau paham bahwa sinetron itu seharusnya jadi senjata bela negara bukan cuman jadi duit semata.

Bapak tinggal perintahkan Menkopolhukam mengumpulkan mereka semua, koordinasi dengan Menteri-menteri terkait dan pahamkan bahwa urusan mempertahankan kesatuan negara adalah urusan kita semua, bukan hanya urusan Polri, BIN dan TNI.

(Baca juga: Media Wahabi Berperan Aktif Menyebar Faham Radikal)

Pakde Jokowi, kita dalam bahaya…

Mudah-mudahan saya bisa mendengar pidato bapak bahwa negara dalam status siaga perpecahan, sehingga dibuat langkah-langkah tegas untuk menanggulanginya.

Kita dalam bahaya pakde Jokowi.. Terutama ketika punya rokok gada korek apinya. Kopipun sudah tidak berguna kalo begini adanya. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment