PM Turki: Sikap AS Terkait Ekstradisi Gulen, Membuat Turki “Kecewa”

Turkey's Prime Minister Binali Yildrim addresses members of parliament from his ruling AK Party (AKP) during a meeting at the Turkish parliament in Ankara, Turkey July 19, 2016.    REUTERS/Umit Bektas

Rabu, 27 Juli 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, ANKARA – Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan bahwa Turki “sakit hati” dengan cara Amerika Serikat menanggapi masalah ekstradisi ulama Muslim Turki Fethullah Gulen, yang oleh Ankara dijadikan tersangka dalang upaya kudeta baru-baru ini.

“ Turki “sakit hati” dengan cara Amerika Serikat menanggapi masalah ekstradisi ulama Muslim Turki Fethullah Gulen, yang bagi Ankara adalah tersangka dalang upaya kudeta baru-baru ini,”ungkap Perdana Menteri Binali Yildirim dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Selasa (26/07). (Baca juga:Netizen Sebut Erdogan Sutradarai Kudeta Palsu di Turki)

“Buktinya jelas. Kami tahu teroris yang bertanggung jawab atas serangan keji terhadap kami dan orang-orang Turki,” kata Yildirim kepada The Wall Street Journal. “Kami sakit hati dengan cara AS dalam menanggapi masalah ini. Kami tidak bisa mengerti mengapa AS tidak bisa menyerahkan orang ini.”

Pada tanggal 22 Juli, Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa Ankara perlu untuk menyajikan bukti bahwa Gulen terlibat dalam upaya kudeta baru-baru ini di Turki sebelum Amerika Serikat bisa memulai proses ekstradisi. (Baca juga:Turki Lakukan Penyiksaan dan Pemerkosaan Terhadap Tahanan Kudeta)

Turki sendiri belum bisa menunjukkan bukti langsung bahwa Gulen berada dibalik upaya Kudeta kemarin. Menutupi hal ini Yildirim menyebut bahwa 265 orang yang tewas adalah buktinya. Ia juga mengatakan ada testimoni dari mereka yang terlibat dalam upaya kudeta yang menyatakan bahwa mereka mendapat perintah dari orang ini (Gulen)

Pada tanggal 15 Juli, upaya kudeta berlangsung di Turki. Pemerintah Turki menuduh pembangkang yang berbasis di AS, Gulen dan pengikutnya telah memainkan peran penting dalam kudeta. Gulen mengutuk upaya kudeta dan membantah terlibat di dalamnya.

Pada tanggal 17 Juli, Gulen mengatakan dia tidak takut diekstradisi ke Turki, sebagaimana yang diminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment