Prof Sumanto Al-Qurtuby: Politik Sholat dan Sholat Politik

shalat-jumat-di-jalan

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Professor Sumanto Al-Qurtuby dalam akun facebooknya menulis tentang “Politisasi Shalat Jum’at”, yang rencananya akan dilakukan oleh demonstran saat shalat Jum’at di jalan pada tanggal 2 Desember. Berikut tulisannya:

Politik Shalat dan Shalat Politik

Apakah shalat, termasuk shalat Jum’at, boleh dilakukan di jalan raya? Boleh. Shalat bisa dilakukan dimana saja: di masjid, rumah, kantor, kampus, lapangan, stadiun, hutan, padang pasir, kereta, pesawat, mobil, bajaj, dlsb. Di negara-negara Barat bahkan, karena keterbatasan masjid, banyak kaum Muslim yang melakukan shalat di gereja atau tempat-tempat ibadah non-Muslim lain. Bahkan di kampung-kampung, banyak umat Islam yang shalat di langgar. Jadi, shalat “di langgar” saja boleh apalagi di jalan raya he he. Kalau masjidnya berada di pinggir jalan raya, kemudian jamaah shalat Jum’atnya sangat banyak dan tak tertampung di masjid, akhirnya kan meluber ke jalan raya. Jadi, boleh kan shalat di jalan raya?. (Baca: Aksi Demo 4 November Angin Segar Bagi Jihadis dan Kaum Radikal)

Tetapi kalau banyak masjid yang masih kosong melompong kok kemudian ngotot mau shalat berjamaah di jalan raya, itu namanya bukan “shalat agama” tapi “shalat politik”. Shalat, seperti bentuk-bentuk ibadah ritual lain baik di Islam maupun di agama-agama lain, bukan hanya “tindakan ibadah” agama semata tetapi juga bisa disebut sebagai “aksi politik” kalau dilakukan dengan motif dan tujuan politik tertentu.

Fenomena “ibadah sebagai aksi politik” ini terjadi di banyak negara dan masyarakat. Dulu, di Bolivia, seperti ditunjukkan dalam studi June Nash, para buruh, karyawan dan pengusaha perusahaan timah swasta menggunakan ritual tradisional bernama cha’alla untuk memprotes kebijakan pemerintah yang melakukan nasionalisasi perusahaan timah. Di Perancis, kaum perempuan Muslimah pernah menggalang “gerakan jilbab” sebagai bentuk protes pada pemerintah yang melarang umat beragama menggunakan simbol-simbol keagamaan di tempat-tempat publik. Sejumlah sekte agama, baik dalam Islam maupun non-Islam, termasuk kelompok mistikus dan sufi, dalam sejarahnya juga pernah menggelar “ritual untuk politik” yang memiliki latar belakang dan tujuan macam-macam.

Apakah shalat Jum’at di jalan raya itu sah? Itu bukan urusanku. Apakah shalat Jum’at di jalan raya itu haram? Itu juga bukan urusanku. Apakah shalat Jumat di jalan raya akan diterima oleh Allah? Ini juga bukan urusanku tahu! (Baca: Kapolri: Demo 4 November Ditunggangi Oleh Agenda Kelompok Khilafah)

Yang aku tahu, kalau memang benar ada gerakan dan memobilisasi massa untuk shalat Jum’at di jalan raya, sementara banyak masjid atau lapangan yang kosong-melompong, itu jelas para penggerak dan penggagas shalat Jum’at di jalan raya itu hendak menggunakan ritual shalat sebagai “instrumen politik” untuk tujuan-tujuan politik tertentu. Inilah yang saya sebut sebagai “politik shalat”, dan kalau memang benar terjadi “shalat Jum’at di jalan raya”, maka shalatnya itu disebut “shalat politik”.

Jika tidak ada hujan dan tidak ada angin, kok orang-orang rombongan shalat Jumat di jalan raya, maka kita patut menduga: ini pasti ada “udang di balik tepung”. Saya sarankan kepada umat Islam, kalau mau “unjuk gigi” ke pubik dan masyarakat dunia itu dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan dengan ritual-ritual beginian, nanti kalian malah kelihatan sebagai umat yang o-on, udik, dan norak. Malu-maluin. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment