Propaganda Barat Atas Senjata Kimia yang Dituduhkan pada Bashar AL-Assad

suriah

Rabu, 10 Agustus 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, ALEPPO – Sebenarnya penggunaan senjata kimia di Suriah sama sekali tidak berpengaruh pada situasi militer di lapangan. Tapi hal itu adalah contoh yang baik mengenai bagaimana perang propaganda dilancarkan. Dengan ini beberapa media Barat menari diiringi musik yang dimainkan oleh kelompok-kelompok teroris di Suriah. Berikut adalah konfirmasi mengenai fakta ini.

Reuters melaporkan pada 2 Agustus bahwa sebuah helikopter menjatuhkan beberapa kontainer gas beracun di sebuah kota dekat dengan tempat pesawat militer Rusia telah ditembak jatuh beberapa jam sebelumnya. (Baca juga:Amnesty Internasional; Teroris Gunakan Senjata Kimia di Aleppo)

Menurut laporan kantor berita itu, lebih dari 30 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, terkena efek gas, yang diduga adalah klorin, di Saraqeb, provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak. Oposisi Koalisi Nasional Suriah (SNC) menuduh Presiden Bashar al-Assad berada di balik serangan itu.

Itulah perang informasi itu. Kabar yang datang dari Suriah diselewengkan. Kantor berita ini menyebar laporan yang diterima dari sumber-sumber di jajaran yang disebut “oposisi moderat” dengan begitu saja tanpa konfirmasi. Satu-satunya “bukti” yang ditunjukkan adalah video klip yang menunjukkan dua pria berdiri di atas seorang pria di tempat tidur, mendudukannya sambil bernafas melalui masker di apa yang dikatakan sebagai Saraqeb, provinsi Idlib. Video ini diposting di YouTube oleh kelompok yang menggambarkan dirinya sebagai kelompok ” relawan pencari dan penyelamat” netral. (Baca juga:Media Rusia: ISIS dan Jabha Nusra Lakukan Persiapan Serangan Senjata Kimia di Aleppo)

Para “penolong” itu menggunakan seragam pertahanan sipil. Salah satu dari mereka memiliki tanda khas besar di punggungnya yang menunjukkan diri mereka sebagai Helm Putih, organisasi relawan pertahanan sipil yang beroperasi di seluruh wilayah Suriah yang dikuasai oposisi. Kelompok ini terlibat langsung dalam usaha mencoba menggulingkan pemerintah Suriah. Mereka dibiayai oleh Barat dan dipimpin oleh James Le Mesurier, seorang pensiunan perwira intelijen militer Inggris dengan track record yang mengerikan di Bosnia, Kosovo, Irak, Lebanon, dan Palestina.

Ada bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa kelompok Helm Putih ini telah berpartisipasi dalam eksekusi warga sipil oleh ekstremis. Penting dicatat bahwa Youtube telah menghapus video yang menunjukkan kejahatan Helm Putih yang bekerja bergandengan tangan dengan al-Qaeda. (Baca juga:Rusia Peringatkan AS atas Serangan Gas Beracun di Aleppo oleh militan)

Tanpa menyebut gas beracun apa yang sebenarnya digunakan, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa klaim penggunaan klorin dibuat sendiri oleh media.

Mengenai hal ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby mengakui bahwa Washington “tidak dalam posisi untuk mengkonfirmasi” penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah. Meskipun demikian, ia menambahkan dengan mengancam bahwa jika tuduhanitu benar, itu akan menjadi “sangat serius.” (Baca juga:MENGERIKAN! Oposisi Moderat Dukungan AS Kembali Bantai Puluhan Warga Sipil Aleppo di Taman Kota)

PBB juga gagal untuk mengkonfirmasi fakta ini, tapi berita ini telah sangat dibesar-besarkan oleh media yang dengan ini telah “menyelesaikan misi provokasinya”. Setidaknya informasi yang telah disebar massif ini akan SEOLAH menjadi fakta yang tak terbantahkan oleh banyak orang hanya karena telah begitu banyak dibahas dan disorot.

Ironisnya, ada serangan kimia lain yang sama, yang dilakukan pada 2 Agustus oleh militan dari kelompok pemberontak Harakat Nour al-Din al-Zenki, yang dianggap oleh Washington sebagai “oposisi moderat”. Mereka ini meluncurkan bahan kimia beracun dari distrik Sukkari menuju bagian timur Aleppo. (Baca juga:2.000 Teroris Tewas di Aleppo Dalam 2 Minggu)

Wilayah ini dikuasai pemberontak. Peluru ditembakkan ke arah “perumahan” di distrik Salah-Eddin. Menurut pernyataan dari Departemen Pertahanan Rusia, tujuh orang tewas dan 23 luka-luka akibat serangan itu.

Berbeda dengan informasi Reuters, ini adalah fakta yang telah terbukti dan tak terbantahkan, namun juru bicara Departemen Luar Negeri AS lebih suka menghindari pertanyaan itu. Dan ia bukanlah satu-satunya orang/pihak yang bahkan enggan berkomentar untuk sekedar “menyatakan keprihatinan” atas fakta kekejaman pemberontak Suriah terhadap warga sipil. (Baca juga:Kiriman Kargo Senjata Tiba di Saudi, Sebelum Dikirim ke Teroris Suriah)

Laporan dari Reuters yang belum dikonfirmasi mereka ributkan, sementara fakta penggunaan senjata kimia didukung oleh bukti-bukti yang cukup diperlakukan seperti cerita tak penting dan dilewatkan begitu saja tanpa perlu disorot.

Pertanyaannya adalah ada apa di balik serangan kimia Harakat Nour al-Din al-Zenki ini?

Pasukan Suriah yang didukung Rusia terus meraih kemenangan di Aleppo. Sebuah koalisi kelompok pemberontak yang menamakan diri mereka “Jaish al-Fateh”, yang meliputi Jabhat Fateh al-Sham (dulunya disebut front al-Nusra yang merupakan afiliasi al-Qaeda), Ahrar al-Sham dan kelompok-kelompok kecil lainnya, sedang mencoba untuk melawan serangan itu. Karena jika sampai Tentara Suriah merebut kendali penuh, maka hal ini akan menjadi kemenangan terbesar bagi pemerintah Suriah yang didukung Rusia dalam pertempuran lima tahun dan menunjukkan pergeseran nasib dramatis sejak Rusia bergabung dalam perang tahun lalu. (Baca juga:Tahanan Teroris Ungkap Rahasia Intelijen ISIS)

Penggunaan senjata kimia merupakan upaya untuk menanamkan rasa takut dan mengalihkan perhatian beberapa pasukan pemerintah Suriah dari misi Aleppo.

Perlu dicatat bahwa senjata kimia yang digunakan oleh ekstrimis ini diproduksi di laboratorium berteknologi tinggi di Mosul – daerah yang secara informal berada dibawah tanggung jawab AS. Fasilitas yang menyediakan senjata pemusnah massal bagi para jihadis ini, fasilitas ini hampir tidak pernah ditargetkan oleh serangan udara AS. Bukan hal yang susah untuk membom fasilitas itu dan menghentikan produksi, tetapi hal itu belum pernah dilakukan dalam dua tahun sejak dikuasai oleh ekstremis.

Outlet-outlet media utama Barat, termasuk lembaga terkenal seperti Reuters, tidak mau buang-buang waktu atau sumber daya dalam mendistorsi berita yang berkaitan dengan perang di Suriah. Apakah itu mengenai keberhasilan yang dicapai oleh tentara Suriah yang didukung Rusia atau mengenai kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh teroris, krisis kemanusiaan atau penggunaan senjata pemusnah massal, Apapun itu, media massa Barat selalu berada di pihak yang melawan Damaskus, terutama dalam upaya untuk membentuk opini masyarakat berkaitan dengan konflik.

Dan ini adalah contoh lain bagaimana perang informasi dilangsungkan. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment