Racikan Bom Majalengka Miliki Daya Ledak Lebih Dahsyat dari Bom Bali

bom_majalengka.jpg

Sabtu, 26 November 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, MAJALENGKA – Bom berbahan kimia yang diracik tersangka teroris dari Majalengka, Rio Priatna, berdaya ledak tinggi. Hal itu dikatakan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Komisaris Besar Rikwanto.

Bahkan, kata Rikwanto, daya ledaknya bisa dua kali lebih besar daripada bom Bali I dan II. [Baca; Kepolisian Indonesia: Teroris Indonesia Dapatkan Dana dari ISIS di Suriah]

“Kalau kita bandingkan bahan ini, misalnya TNT, bisa mencapai dua setengah kali kekuatan kali bom bali I dan II,” ujar Rikwanto yang didampingi oleh tim laboratorium forensik Polri di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Sementara itu, bahan peledak RDX yang juga diracik Rio kekuatannya mencapai 3,2 kali ledakan bom Bali. Daya ledak, kata Rikwanto, bisa lebih kuat lagi jika senyawa tersebut ditambahkan dengan booster dan paku.

“Bahan-bahan ini relatif murah dan gampang dicari di toko-toko, toko online,” kata Rikwanto.

f1a0ffe8-a5b9-4fdf-b046-29ed8c70ac02

Rio meracik bahan kimia dan punya laboratorium sendiri di rumahnya. Saat penangkapan di kediamannya beberapa hari lalu, Detasemen Khusus Antiteror Polri 88 menyita cairan asam nitrat, asam sulfat, air raksa, pupuk urea, dan gelas kimia.

Alat-alat tersebut diyakini dapat menimbulkan ledakan jika diracik dengan takaran tertentu. Pembuatan bahan peledak itu dilakukan berdasarkan pesanan.

“Sebelum ramuan itu jadi dan sempurna, sudah ditangkap Densus 88,” kata Rikwanto. [Baca; Bom Molotov di Gereja Oikumene dan Ancaman Radikalisme di Indonesia]

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, Rio merupakan anggota kelompok Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) yang dipimpin Bahrun Naim.

“Tim Densus 88 menangkap RPW di Majalengka, yang bersangkutan kaitannya dengan kelompok Bahrun Naim yang ada di Timur Tengah. Yang bersangkutan ini mencoba membuat ramuan dari bahan kimia dan menghasilkan struktur bahan kimia yang bisa dijadikan bom,” kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Kombes (Pol) Rikwanto kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (25/11/2016).

Tim Densus dalam jumpa pers menghadirkan sejumlah barang bukti berupa bahan baku peledak ‘ramuan’ untuk membuat bom berdaya ledak tinggi. Bahan baku tersebut di antaranya Trinitrotoluena (TNT), bahan baku RDX, bahan baku HMTD, bahan baku ANFO, dan bahan baku black powder.

Pemesan bom kepada RPW menurut Rikwanto berasal dari pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara. Sementara untuk membuat bom, RPW diduga mendapat aliran dana dari Arab Saudi, Taiwan dan Malaysia dari orang Indonesia yang bekerja sebagai TKI di luar negeri.

bom_1b2d92am0bcu1ko31dfh65a39ov

“Dia dapat aliran dana dari Arab Saudi, Taiwan dan Malaysia, dari orang Indonesia yang ada di sana, yang bekerja sebagai TKI, yang ter-radikalisasi oleh kelompok-kelompok ini. Dia (pengirim dana) mengirimkan dana (ke RPW) untuk perjuangan bersama,” jelas Rikwanto. [Baca; PPATK: 2015 Dana Miliaran Masuk dari Timur Tengah, Diduga Untuk Danai Teroris]

Rikwanto mengatakan nantinya bom ini akan diledakkan di beberapa tempat vital yang ada di Indonesia. “Pada waktunya seperti biasa sasaran ditujukan ke DPR/MPR, Mabes Polri Mako Brimob Kelapa Dua, kedutaan-kedutaan tertentu, stasiun televisi, tempat ibadah dan kafe,” kata Rikwanto.

Atas perbuatannya, RPW dijerat UU Terorisme, dengan sangkaan melakukan permufakatan jahat, membuat, menyimpan dan menguasai bahan peledak. [Voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment