Sergei Lavrov: Gencatan Senjata di Aleppo Taktik Licik Teroris

sergei_lavrov.jpg

Selasa, 16 Agustus 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, RUSIA – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari Senin mengeluhkan militan Suriah yang menggunakan gencatan senjata di sekitar Aleppo untuk kembali mempersenjatai dan mengumpulkan anggotanya.

Lavrov, yang berbicara pada sebuah konferensi pers di kota Yekaterinburg bersama Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, mengatakan ia menyadari bahwa gencatan senjata sementara di Aleppo memungkinkan masuknya bantuan untuk warga sipil yang masih terjebak di daerah pertempuran, TASS melaporkan.

Tapi dia juga memperingatkan bahwa gencatan senjata beresiko digunakan oleh militan untuk kembali mempersenjatai dan mengumpulkan anggotanya, sebagaimana yang telah mereka lakukan di masa lalu.

Moskow yakin bahwa militan Suriah harus menjauhkan diri dari ISIS dan Front Fatah al-Sham, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengatakan pada hari Senin menyusul pembicaraan dengan rekannya dari Jerman.

“Kami percaya bahwa masih diperlukan untuk tidak mengizinkan entitas teroris internasional untuk menang di sini dan untuk memastikan awal negosiasi sebenarnya dan sejati antara semua pihak di Suriah,” kata Lavrov.

Diplomat top Rusia juga menunjukkan fakta bahwa ada risiko besar dalam menerbangkan bantuan kemanusiaan ke Aleppo, dan menekankan pentingnya untuk memastikan bahwa bantuan itu tidak berakhir di tangan teroris.

“Situasi di Aleppo berubah sepanjang waktu,” kata menteri. “Kami melihat risiko yang sangat besar (untuk menerbangkan bantuan kargo kemanusiaan) bahwa itu tidak selalu mungkin karena kondisi cuaca atau peta perang.”

“Sementara memecahkan masalah kemanusiaan sangat penting untuk memastikan bahwa teroris tidak mendapatkan bala bantuan dalam hal senjata, orang-orang bersenjata dan amunisi dengan kedok bantuan kemanusiaan,” kata Lavrov.

“Mereka yang ingin mengirimkan barang tersebut, perlu koordinasi dengan pemerintah Suriah,” kata Lavrov. Dia juga menambahkan bahwa Rusia akan “berkoordinasi dengan PBB” dalam masalah pengiriman bantuan kemanusiaan.

Lavrov mengakui bahwa gencatan senjata kemanusiaan tiga jam yang telah terjadi setiap hari di Aleppo tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga sipil yang terperangkap.

“Tentu saja, itu tidak cukup,” dia setuju. “Untuk membuat jeda ini, kita perlu menyelesaikan semua isu yang beredar … Kami sepakat dengan Amerika Serikat di masa lalu untuk menyatakan 72 jam ‘masa tenang’ yang sedikit memperbaiki situasi kemanusiaan, tapi jeda ini menjadikan kelompok teroris semakin membengkak hingga mencapai 7.000 lebih pejuang, serta senjata dan amunisi.”

Dia menambahkan bahwa Rusia berharap bahwa situasi warga sipil di Aleppo membaik.

“Kami berharap bahwa partisipasi Rusia dan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, dan tidak hanya Barat, tetapi juga negara-negara di kawasan, berpartisipasi dengan PBB untuk meringankan kondisi kehidupan penduduk sipil,” kata menteri Rusia. [VOAI]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment