Suara Panggilan Adzan di Tengah “Ave Maria”, Indahnya Toleransi

Lantunan-Adzan-dan-Ave-Maria.png

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Medan baru-baru ini dikagetkan dengan ulah seorang bocah ingusan yang akan meledakkan sebuah gereja Katholik, namun upaya itu dapat digagalkan, melihat hal ini jelas sekali bahwa ada sebuah doktrinisasi sesat kepada masyarakat bahwa siapa saja yang tidak sejalan dengan ideologinya dianggap sesat dan kafir, ini inti masalah yang saat ini berkembang, dan adu domba seKtarian, SARA adalah bencana setiap Negara. (Baca: Wahabi Otak Bom Bunuh Diri di Seluruh Dunia)

MARI BERSATU JAGA NKRI DARI TANGAN-TANGAN JAHAT OKNUM-OKNUM YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA SEBAGAI MONSTER PENGHANCUR PERSATUAN DAN KESATUAN NEGARA DAN BANGSA.

Ada satu fakta tentang indahnya persatuan dan perdamaian yang ditampakkan oleh rakyat Lebanon, berikut salah satu tulisan yang diambil dari Kompasiana tentang persatuan di Lebanon:

Ada Panggilan Adzan di Tengah “Ave Maria”

Terdengarlah panggilan Adzan yang dilantunkan oleh seorang pria yang berparas Timur Tengah. Ia adalah Maen Zakaria. Lantunannya lantang namun khidmat, liriknya terirama mantap tanpa keraguan. Tak lama berselang, seorang penyanyi perempuan, Tania Kassis , bergabung di panggung dan mulai menyanyikan lagu “Ave Maria….” Tania menyanyikan lagu rohani Katolik ini dengan sesekali terdengar panggilan Adzan yang dilantunkan Maen. Kolaborasi lirik beda bahasa ini terbukti dapat menghasilkan harmoni yang sangat indah. Bahkan nampak penonton yang menitikkan air mata. (Baca: HTI, PKS, Wahabi Sebarkan Isu Anti Nasionalisme-Toleransi Untuk Hancurkan NKRI)

Lantunan Adzan dan Ave Maria

Rasa takjub memaksa saya untuk membagikan tautan video ini kepada teman-teman saya. Beberapa teman juga menunjukkan kekagumannya, namun sebagian merasa terganggu. Mereka berpendapat bahwa kolaborasi ini seakan mengajarkan bahwa semua agama sama; suatu pandangan yang tidak mereka setujui. Pandangan saya sebaliknya.

Saya tidak merasa bahwa lagu ini mempromosikan doktrin “semua agama sama”. Yang saya tangkap dari video ini adalah konsep toleransi beragama yang sangat jelas tergambar. Banyak orang yang salah kaprah tentang toleransi beragama. Mereka berpendapat bahwa menjunjung toleransi beragama sama halnya dengan mendukung ajaran “semua agama sama”. Persepsi ini sebenarnya tidak keliru, namun sangat keliru. Toleransi beragama berarti kita menerima orang lain yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita dan membiarkan perbedaaan itu tetap ada, bukannya justru meleburkan perbedaan-perbedaan menjadi satu doktrin bersama.

Maen dan Tania menyanyikan lirik mereka masing-masing. Tania tidak ikut-ikutan melantunkan Adzan, demikian pula pria tadi tidak ikut-ikutan melantunkan lirik lagu berbahasa Latin tersebut. Mereka menyanyikan bagian mereka masing-masing. Mereka tidak pula menggabungkan kedua lantunan tersebut menjadi satu lantunan yang baru. Mereka menyanyi tanpa balap-balapan, saling adu kuat volume suara, atau saling menginterupsi. Mereka saling melengkapi hingga tercipta keindahan yang dapat ditangkap oleh telinga semua pendengarnya. Beginilah gambaran toleransi beragama yang sesungguhnya. (Baca: Fanatisme atau Toleransi: Pilihan Menjadi Indonesia)

Toleransi beragama adalah saat dimana orang-orang memiliki keyakinan yang berbeda-beda, dan keragaman tersebut berada beriringan dan saling menghormati satu sama lain. Sikap dewasa memampukan akal untuk menerima orang lain dengan keyakinan yang berbeda. Tidak ada pemaksaan keyakinan dengan cara kekerasan, seperti yang dilakukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), melainkan diskusi sehat yang beradab yang bermuara pada rasa kebanggaan akan keberagaman yang ada.

Menurut Wahid Foundation yang melaporkan hasil survei nasional terkait potensi radikalisme dan intoleransi sosial, keagamaan di kalangan muslim Indonesia, di Bogor, Senin, (1/8). Hasilnya, meski 150 juta mayoritas muslim di Indonesia atau 72 persen menolak tindakan radikalisme, tetapi terdapat 11,5 juta atau 7,7 persen orang bersedia berpartisipasi melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan, dan 600 ribu orang atau 0,4 persen diantaranya pernah melakukan tindakan radikal.

“Dari sisi potensi cukup mengkhawatirkan. Dimana proyeksi terhadap sekitar 150 juta muslim Indonesia, 7,7 atau 11,5 juta orang berpotensi bertindak radikal dan 0,4 persen atau 600 ribu bersedia melakukan tindakan radikal. Meski ini bukan angka faktual, tapi harus mendapat perhatian,” kata Aryo Adi Nugroho, Manager Riset Wahid Foundation dalam paparannya, Senin (1/8).

Tindakan radikal itu, kata Aryo, berupa sweeping, berdemonstrasi menentang kelompok yang dinilai menodai dan mengancam kesucian Islam atau melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain. Adapun faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap kecenderungan intoleransi dan radikalisme terutama adalah pemahaman agama Islam yang bersifat literalis atau harfiah. “Apalagi pemahaman tersebut diberi ruang publik dalam bentuk ceramah atau pengajaran keislaman,” ungkapnya. (Baca: Inilah Kelompok Munafik yang Tak Cinta NKRI Tapi Cinta Turki)

Berdasarkan hasil survey yang juga perlu dicermati, sebanyak 74,5 persen responden menganggap bahwa demokrasi masih merupakan bentuk pemerintahan yang paling baik dan sebanyak 82,3 persen responden menyatakan Pancasila dan UUD 1945, adalah dasar yang terbaik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adapun survey tersebut dilakukan bekerjasama dengan Lembaga Survey Indonesia (LSI) dengan melibatkan 1.520 responden dari seluruh Indonesia atau di 34 provinsi pada periode April-Mei 2016.

Bagaimana dengan negara kita? Apakah dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sudah cukup membuat negara kita memiliki tingkat toleransi beragama yang tinggi? Jadi ada macan tidur di negara tercinta ini. Macan tidur itu adalah intoleransi agama. Saya teringat film X-men. Cyclops dan Storm memiliki karakteristik yang sangat berbeda, namun jika mereka bekerjasama dalam tim, hasilnya akan sangat baik. Setidaknya untuk saat ini, kita tidak perlu menampilkan kolaborasi seni seperti yang dilakukan Maen dan Tania, karena sepertinya kebanyakan dari kita belum siap dan kurang berkenan untuk itu.

Namun, kita dapat mulai mengajarkan dan membiasakan toleransi antar umat beragama dengan cara yang lebih sederhana, misalkan dengan melakukan acara olahraga atau bakti sosial yang melibatkan pemeluk-pemeluk agama yang ada. Orang bijak mengatakan bahwa sebelum bertindak, kita harus bermimpi terlebih dahulu. Apa mimpi kita? Mimpi kita adalah Indonesia yang toleran terhadap perbedaan agama, Indonesia yang menyikapi perbedaan keyakinan dengan dialog dan bukan kekerasan ataupun intimidasi lainnya, dan Indonesia yang tidak mengeksploitasi isu agama pada momen-momen pemilihan pemimpin. Pandangan tidak toleran terhadap pemeluk agama lain itu masih ada dalam kehidupan kita. Dan ini nyata. Mari kita menjadi agen-agen pembawa semangat toleransi di lingkungan manapun kita berada. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment