Terorisme dan Radikalisme Adalah Hasil Haram Wahabisme

radikalisme-terorisme

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Radikalisme dan terorisme adalah buah haram Wahabisme menurut para peneliti sejarah bahwa aliran Wahabiyah telah membuktikan bahwa untuk memurnikan tauhid hanyalah sebuah slogan yang dibentuk atas perintah langsung kementerian Urusan Penjajahan Kerajaan Inggris. Setelah mendapatkan sebagian kaum muslimin yang dapat dijadikan sebagai boneka-boneka bodohnya, kemudian konspirasi penjajah Eropa Yahudi mengirimkan berbagai keperluan operasional, logistik, tentara bayaran dan istruktur-instruktur tentara bayaran yang disupport sepenuhnya oleh kekuatan sekutu untuk mendukung gerakan Wahabi yang dimotori oleh Muhammad Ibnu Sa’ud dan Muhammad ibnu Abdil Wahhab dalam melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Ottoman yang sah dengan impian tingginya untuk mendirikan Haikal Sulaiman di tanah al-Haramain. (Baca: Denny Siregar Bongkar Kampanye Pembodohan Ala Saudi dan Wahabi)

Baru-baru ini mazhab besar dalam Islam (Ahlusunnah dan Syiah) sama-sama mengecam superioritas keagamaan yang selama ini diklaim oleh negara Saudi, dan mengutuk ideologi Wahabi yang merusak, memecah belah, dan menebar sektarianisme di seluruh dunia.

Sharmine Narwani seorang Komentator dan analis geopolitik Timur Narwani menyebut bahwa hal ini terlihat pada hasil pertemuan ulama-ulama Sunni di Chechnya yang mengeluarkan sekte wahabi dari Sunni. Konferensi ini menyatakan bahwa ideologi Wahabi yang merupakan ideologi resmi kerajaan Arab Saudi dan Qatar dan menjadi dasar bagi gerakan-gerakan radikal atas nama Islam di seluruh dunia itu bukanlah termasuk bagian agama Islam. Tak lama setelah pukulan pertama untuk Saudi tersebut, dalam pidatonya yang paling konfrontatif, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pekan lalu saat pesan Haji tahunan mencerca ketidakadilan yang telah dilakukan kerajaan Wahabi Saudi terhadap para jama’ah haji, terutama saat tragedi Mina yang mengerikan tahun lalu.

Dan hasil akhir dari komunike tersebut adalah, bahwa kelompok ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ini memiliki pesan yang sangat khusus bagi dunia Muslim yaitu, “Wahhabisme dan takfirisme -yang terkait dengannya- tidak lagi diterima sebagai bagian dari Sunni”. (Baca: Persekutuan Hitam Rezim Saudi dengan Wahabisme yang Anti Nabi Muhammad)

Arab Saudi adalah satu negara penyumbang terbesar puluhan ribu masjid Wahabi, sekolah, ulama dan publikasi Islam yang tersebar di seluruh dunia Muslim. Banyak dari mereka, menjadi pusat untuk perekrutan teroris. Biaya penyebaran paham Wahabisme menurut Narwani telah mencapai hampir 100 miliar dolar atau lebih dalam tiga dekade terakhir.

Inilah yang sejak lama kenapa dunia mengkhawatirkan paham Wahabisme sebagai wadah terorisme global. Ajaran puritan itu diyakini tidak cuma menjadi rumah ideologi, tapi penganutnya juga ikut membiayai tindak terorisme di Timur Tengah: (Baca: Kerajaan Wahabi Saudi Akan Dirikan 3 Universitas di 3 Kota Besar Indonesia)

  1. Sumber Ideologi

Kebanyakan kelompok teror dari Nigeria, Suriah, Irak hingga ke Pakistan mengklaim Wahabisme atau Salafisme sebagai ideologi dasar. Al-Qaeda, Islamic State, Taliban, Lashkar-e-Toiba, Front al Nusra dan Boko Haram adalah kelompok terbesar yang jantung ideologinya merujuk pada paham Islam puritan itu.

  1. Propaganda dari Riyadh

Hingga kini pemerintah Arab Saudi sudah mengucurkan dana hingga 100 milyar Dollar AS untuk mempromosikan paham Wahabisme ke seluruh dunia. Sebagai perbandingan, Uni Sovyet cuma menghabiskan dana propaganda Komunisme sebesar 7 milyar Dollar AS selama 70 tahun sejak dekade 1920-an. Pakar keamanan mencurigai, sebagian dana dakwah itu disalahgunakan untuk membiayai terorisme.

  1. Dana Gelap di Musim Haji

Pada nota rahasia senat AS dari tahun 2009 yang bocor ke publik, calon presiden AS Hillary Clinton menyebut hartawan Arab Saudi sebagai “donor terbesar” kelompok terorisme di seluruh dunia. Biasanya teroris memanfaatkan musim haji untuk masuk ke Arab Saudi tanpa mengundang kecurigaan aparat keamanan.

  1. Bisnis Perang

Penyandang dana teror terbesar di Arab Saudi tidak lain adalah hartawan berkocek tebal. Dengan mengandalkan uang minyak, mereka secara langsung atau tidak langsung menyokong konflik bersenjata di Pakistan atau Afghanistan. Hal tersebut terungkap dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor di Wikileaks.

  1. Sumbangan buat Laskar Tuhan

Kelompok teroris tidak jarang menggunakan perusahaan atau yayasan untuk mengumpulkan dana perang. Lashkar-e-Toiba di Pakistan misalnya menggunakan lembaga kemanusiaan Jamaat-ud Dakwa, untuk meminta sumbangan. Kedoknya adalah dakwah Islam. Salah satu sumber dana terbesar biasanya adalah Arab Saudi.

  1. Senjata dari Emir

Arab Saudi bukan satu-satunya negara Islam yang menyokong terorisme. Menurut catatan Pentagon yang dipublikasikan majalah The Atlantic, Qatar membantu Jabhat al-Nusra dengan perlengkapan militer dan dana. Kelompok teror tersebut sempat beroperasi sebagai perpanjangan tangan Al-Qaida di Suriah. Jerman juga pernah melayangkan tudingan serupa terhadap pemerintah Qatar ihwal dana untuk Islamic State

  1. Dinar untuk Al Nusra

Tahun 2014 silam Washington Post mempublikasikan laporan yang mengungkap keterlibatan Kuwait dalam pembiayaan kelompok teror di Suriah, seperti Jabhat al Nusra. Laporan yang berlandaskan kesaksikan perwira militer dan intelijen AS itu menyebut dana sumbangan raksasa senilai ratusan juta Dollar AS.

  1. Dukungan “tak langsung”

Harus ditekankan tidak ada bukti keterlibatan kerajaan al-Saud dalam berbagai aksi teror di seluruh dunia. Namun pada serangan teror 11 September 2001 di New York, AS, komite bentukan senat menemukan bahwa pelaku memiliki hubungan “tidak langsung” dengan kerajaan dan “mendapat dukungan dari kaum kaya Saudi dan pejabat tinggi di pemerintahan.”

  1. Pencegahan Setengah Hati

Sejauh ini pemerintah Arab Saudi terkesan setengah hati membatasi transaksi keuangan gelap untuk pendanaan terorisme dari warga negaranya. Dalam dokumen rahasia Kementerian Pertahanan AS yang bocor ke publik, Riyadh misalnya aktif melumat sumber dana Al-Qaeda, tapi banyak membiarkan transaksi keuangan untuk kelompok teror lain seperti Thaliban atau Lashkar-e-Toiba. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment