Toa atau Provokator Sosmed Biangkerok Kerusuhan Tanjung Balai ?

toa
Senin, 1 Agustus 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, LAMPUNG – Muhammad Jusuf Kalla, selaku politikus puncak di Indonesia, juga selaku ketua Dewan Masjid Indonesia, protes suara adzan karena TOA-nya.

“Sangat mengganggu…. ” Kata JK saat pulang kampung ke Sulawesi.

Saat itu JK protes karena marbot masjid memutar ngaji Qur’an 1 jam sebelum Adzan. Dilanjut dengan adzan. “Kita gak bisa tidur gara gara marbot, setelah pagi kita akan beraktifitas malah si marbot bisa tidur sampai jam 11 siang” komentar JK.

Saat kembali ke Jakarta JK pernah meminta fatwa MUI agar adzan yang menggunakan TOA ditertibkan, tapi mungkin MUI lupa buat fatwa, atau mungkin saya yang gak tau sementara MUI sudah berfatwa…?? Sebenarnya JK bukan melarang Adzan, tapi marilah adzan yang juga familier dengan kuping orang banyak. Kalo memberi tahu sholat, toh sudah ada alarm HP dimana itu gak menyusahkan orang lain bukan…??

Saat Ramadhan kemaren dibanyak tempat di Indonesia (walau mungkin bukan semua tempat) malah sejak adzan Isya sampai waktu Imsak – Speaker masjid selalu bikin kuping pengeng dengan teriakan anak anak dimasjid dengan TOA yang berteriak: Sahuuuuuuuurrrrrrrr ……

Di Banda Aceh, 16 Februari 2013 lalu, Bapak Sayyed Hasan, warga Desa Gampong Jawa Kecamatan Kuta Raja Kota Banda Aceh, yang notabene keturunan Arab dimana leluhurnya termasuk yang dimuliakan sebagai penyebar agama Islam di Aceh malah hampir saja dimassa, Tak beda protes pak Sayyed yang notabene juga Islam dengan protes JK yang juga Islam juga protes warga di Tanjung Balai kemaren.

Bapak Jusuf Kalla tidak salah, Pak Sayyed Hasan juga tak salah, Pemrotes di Tanjung Balai itu juga tidak salah. Kini tinggal ummat Islam yang harus koreksi diri. Kalo dulu masjid tidak sebanyak sekarang. Warga Negara Indonesia juga tidak berjumlah ratusan juta jiwa kayak sekarang. Jadi kalo adzan pake TOA ya gak masalah.

Saya juga ingat, jaman dulu banyak tetangga saya di kampung yang ternak kambing. Kambingnya dilepas semuanya tanpa tali tambatan, pulang nanti kambingnya sore hari baru dimasukkan kandang. Gak ada warga yang terganggu. Makin hari makin banyak perumahan. Mulailah protes gara gara kambing makan tanaman dan bunga. Pemilik kambing MENGGERTAK karena kambing lepas adalah budaya sejak lama. Jangan coba coba mengusik.

Tapi akhirnya pemilik kambing kalah. Tradisi pelihara kambing DIPAKSA BERUBAH HARUS SESUAIKAN KONDISI. Kambing harus diikat. Kalo sempat kambing lepas dan memakan sayur dikebun sanksinya kambing disita untuk sipemilik kebun.

Itu adalah sampel perubahan tradisi lama. Kini Tradisi lama soal Adzan juga sudah harus dirubah. Bahkan di Arab Saudi juga sudah lebih duluan berubah. Yang boleh adzan pakai TOA hanyalah masjid masjid utama saja, Langgar / Mushalla adzan tanpa pakai TOA.

Kalaupun TOA masih digunakan saya pikir orang masih mau maklum jika hanya untuk adzan yang tak lebih dari 5 menit. Jangan sampai semalam suntuk yang bisa mengganggu orang istirahat kayak bulan Ramadhan.

Berlaku anarkhis bukanlah tanda kita yang Muslim jadi menang, justru kita makin jauh dari ajaran Islam yang katanya Agama Rachmah (Agama Kasih). Sekali kita merasa menang membakar rumah Ibadah orang, tapi selamanya kita kalah karena diolok-olok oleh orang. Dan semua generasi Islam sekian tahun kedepan memikul olok olok ulah segelintir Muslim Barbar saat ini. Kita yang salah tapi generasi Islam kedepan yang menanggung akibatnya.

Kalo kita bilang “Islam agama damai” apakah Islam damai itu dengan memalukan diri sendiri…?? Karena itu pesan saya hanya tunggal: Mari hidup damai di Bumi milik bersama ini.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut insiden kerusuhan yang berujung pembakaran dan pengrusakan sejumlah rumah ibadah di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jumat 29 Juli 2016 akibat adanya provokasi yang tersebar secara viral di media sosial (medsos).

“Sebenarnya adalah masalah miskomunikasi antar tetangga. Karena ini adalah penduduk lama di situ, bukan penduduk baru. Cuma mungkin kurang komunikasi, ada kata-kata yang kurang pas ketika ada suara pengeras suara dari masjid, sehingga ada warga keturunan yang berbicara agak keras,” papar Tito di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (31/7/2016).

Menurut Tito, perselisihan dan perdebatan tersebut saat itu sedang diselesaikan antar warga. Namun, karena perdebatan terus terjadi akhirnya warga membawa masalah ini ke polsek sekitar.

Saat sedang di Polsek itulah, beredar pesan di media sosial yang bernada provokatif yang memicu emosi para warga sehingga terjadi tindakan pengrusakan.

“Nah, saat di polsek beredarlah pesan di media sosial yang berbau provokatif. Kemudian warga ramai secara sporadis melakukan aski kekerasan, ‎khususnya pembakaran di tiga rumah kalau tidak salah, kemudian ada kendaraan, serta vihara dan klenteng,” jelas Tito.

Nah, pertanyaannya siapa yang sengaja memprovokasi warga melalui medsos? Apa motif dibalik provokasi itu? (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment