Unjuk Rasa di California Protes Pembebasan Pemerkosa “Brock Turner”

tdy_gadi_turner_160831-nbcnews-ux-1080-600-e1472893112538.jpg

Minggu, 4 September 2016

VOA-ISLAMNEWS.COM, SACRAMENTO – Puluhan orang menggelar unjuk rasa di negara bagian California, Amerika Serikat untuk memprotes kekerasan seksual menyusul pembebasan seorang mantan mahasiswa Stanford University yang telah memperkosa seorang wanita pingsan tiga bulan lebih awal dari masa hukumannya.

Beberapa jam setelah Brock Turner dilepaskan dari penjara di hari Jum’at (02/09) waktu setempat, demonstran meneriakkan protes dan melambaikan plakat-plakat di luar penjara Santa Clara County.

Para pengunjuk rasa sangat marah dengan pembebasan Turner karena dianggap terlalu cepat, yaitu hanya setengah dari hukuman penjaranya yang seharusnya selama enam bulan.

Turner dihukum karena melakukan penyerangan setelah memperkosa seorang wanita muda yang pingsan di kampus Stanford University pada bulan Januari tahun lalu.

Pada tanggal 2 Juni, Hakim pengadilan tinggi Santa Clara County, Aaron Persky, memvonis Turner dengan hukuman enam bulan kurungan yang harus diikuti oleh tiga tahun masa percobaan.

Protes atas vonis yang dijatuhkan Persky yang dianggap terlalu lunak di mata banyak orang pun merebak begitu cepat. Para pendemo ingin agar Persky dipecat.

Selama demo di hari Jum’at itu, demonstran meneriakkan, “Hey hey, ho ho, Hakim Persky harus pergi.” Mereka membawa plakat-plakat yang bertuliskan “melindungi korban, bukan pemerkosa” dan lain-lain.
Beberapa pembicara menyerukan Persky untuk mundur dari kantornya.

“Tidak ada keadilan dalam hukuman ringan dan dilepaskannya Brock Turner,” kata Perwakilan AS Eric Swalwell, mantan jaksa yang mewakili wilayah San Francisco Bay.

Kekerasan seksual terhadap mahasiswi di kampus universitas di Amerika Serikat telah mencapai “tingkat epidemi,” dan intervensi untuk mengurangi hal itu sangat dibutuhkan, hal ini diungkap sebuah studi yang dirilis tahun lalu.

Survei yang dilakukan di sebuah universitas swasta besar yang tidak disebutkan namanya di negara bagian New York itu, menemukan bahwa 19 persen perempuan di sana menderita beberapa bentuk perkosaan baik dengan paksaan atau saat mereka lemah karena pengaruh alkohol atau obat-obatan. (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment