Wawancara Ekslusif TV One Bersama Jurnalis Asal Turki Terkait Kudeta Militer

Wawancara TV One

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Perbincangan menarik tentang kudeta di Turki bersama Windy Wellingtonia dan Selim Caglayan -Wartawan Senior Turki- dan Sahrul Hidayat -Peneliti Timur Tengah Universitas Exeter Inggris- pada acara Kabar Hari Ini Akhir Pekan 16 juli 2016, Selim Caglayan mengatakan bahwa kudeta militer kemarin tidak masuk akal dan penuh dengan kejanggalan bahkan ia menyebutnya sebagai “kudeta kosong”. Reputasi Erdogan di dalam negeri itu sedang redup karena kasus korupsi, isu kemitraan bisnis dengan ISIS, pembredelan pers, sampai kasus Ijazah palsu yang menimpanya. Belum lagi tentang pemulihan hubungan rezimnya dengan Israel dan politik kotornya di Suriah. Walau belum sampai pada kesimpulan akhir, indikasi ini memang sangat kuat. (Baca: Samakan Erdogan dengan “Gollum” Pria Turki Dipenjara)

Ya, jika memang kudeta kemarin hanyalah “false flag” dari rezimnya, setidaknya itu sudah berhasil karena sejak kejadian itu popularitas Erdogan melonjak, permainan “playing victim” yang dilakukannya sukses mendatangkan simpati padanya, simpati dari negara-negara luar pun berdatangan. (Baca: Menteri Pembangunan Israel Umumkan Pemulihan Kerjasama dengan Turki)

Obama langsung melakukan pernyataan pers mengutuk kudeta dan mengajak seluruh pihak di Turki untuk bersatu mendukung Erdogan, bahkan dua kekuatan regional yang saling berseteru yaitu Israel dan Iran menyampaikan penolakan yang sama pada aksi kudeta kemarin. Termasuk tokoh oposisi Erdogan seperti Fethullah Gulen yang ia tuduh mendalangi kudeta tersebut juga turut mengecam aksi kudeta sporadis itu.

Tujuan skenario “kudeta” tampaknya sukses. Dan satu lagi, ia sekarang punya alasan kuat untuk bersikap tangan besi dengan melakukan pembersihan besar-besaran pada seluruh stakeholder di Turki yang berseberangan darinya. Dan sekarang tidak ada yang mampu menghentikannya untuk mendapatkan lebih banyak power di negara prakarsa Mustafa Kemal Ataturk itu, selain Tuhan. (Baca: Majalah Turki Bongkar Ijazah Palsu Erdogan)

Saya masih teringat dulu saat Erdogan terpilih pada pemilu 2014 kemarin dengan perolehan suara 52% ia langsung berpidato, “Saya tidak hanya akan menjadi Presiden bagi 52% pemilih saya, tapi saya akan menjadi Presiden bagi seluruh 77 juta rakyat Turki.” Dan kita lihat hari ini ternyata semua itu tak lebih dari sekedar ungkapan pencitraan.

Dalam beberapa bulan saja Erdogan telah melakukan “pembersihan” terhadap para oposisinya, ribuan warga telah ditangkap karena dianggap menghina dirinya baik itu yang sekedar membuat status kritik di medsos sampai yang membuat meme lucu-lucuan menyamakannya dengan Gollum. Dan hasil tangkapan besar di “kudeta” kemarin, ia menjebloskan ribuan Tentara yang dituduh terlibat kudeta dan memburu ribuan hakim di seluruh Turki yang tak berpihak pada Rezimnya. Inilah perang sipil yang sebenarnya, dan ini belum akan berakhir. (Baca: Kudeta Palsu Akan Jadi Bumerang Bagi Erdogan)

Sangat “demokratis” bukan? Jangan lupa semua yang ia bersihkan itu adalah warga Turki asli. Jangan anda bandingkan dengan Presiden Suriah Bashar al Assad yang memerangi puluhan ribu pemberontak yang mayoritasnya militan asing yang “berjihad” di Suriah dengan disponsori dan dipersenjatai negara-negara Barat dan Teluk. Sekarang perhatikan, walau hanya menghadapi jumlah pemberontakan yang jauh lebih sedikit dan jauh lebih lemah dibanding para misionaris yang melawan Assad, Erdogan sudah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap para oposisinya yang notabene warganya sendiri dengan membabi-buta.

Sesuai skenario, kudeta militer “jadi-jadian” telah gagal. Namun jika Erdogan merespon moment bersejarah ini dengan cara yang salah, jangan kaget bila ini justru akan menghasilkan kudeta demokratis yang sebenarnya dalam waktu dekat.

Jangan lupakan juga fakta bahwa Erdogan pada pemilu 2014 kemarin hanya meraih 52% suara. Artinya suara rakyat tidak mutlak memilihnya, ada hampir setengah Turki yang tidak menjatuhkan pilihan padanya. Beda dengan Assad di Suriah yang meraih suara mutlak 88.7% suara rakyat. Bila ia terus bertangan besi dan bermain kotor di kawasan, jangan salahkan bila kemenangannya yang sedikit itu tak akan banyak menolong. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment