Wikileaks Retas Server Partai Milik Erdogan

#Wikileaks

VOA-ISLAMNEWS.COM, TURKI – Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba organisasi pembocor data Wikileaks mengumumkan keberhasilan mereka meretas server situs akparti.org.tr milik Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Partai Islamis ini adalah kendaraan politik Erdogan meraih kekuasaan.

Wikileaks sejak Selasa (19/7) merilis lebih dari 500 ribu dokumen serta 300 ribu surat elektronik anggota AKP. Data-data ini diumbar ke publik – menurut Wikileaks – agar masyarakat bisa memahami latar belakang kudeta militer akhir pekan lalu secara lebih akurat.

Wikileaks secara tidak langsung menggambarkan bahwa dengan atau tanpa kudeta militer, struktur politik Turki sudah sangat ruwet. Bocoran ribuan dokumen ini bisa menjelaskan konstalasi politik Turki di bawah kepemimpinan Presiden Reccep Tayyip Erdogan.

“Bocoran data kami akan menolong sekaligus menyudutkan AKP,” kata Wikileaks melalui akun Twitternya, seperti dilansir Aljazeera.

Pengamat intelijen Joshua Cook, yang menghubungi Sibel Edmonds selaku mantan intelijen di Turki, punya sedikit dugaan mengenai kemungkinan isi bocoran Wikileaks. Yakni pemaparan siapa yang kemungkinan bergerak paling awal punya ide melakukan kudeta.

Cook menilai selama ini kancah politik Turki dikuasai tiga kekuatan besar.

Faksi pertama tentu saja Erdogan dan AKP-nya yang menguasai parlemen, dengan dukungan luas di pedesaan Turki. Jaringan AKP di luar negeri paling dekat dengan kelompok Ikhwanul Muslimin yang tiga tahun lalu diberangus di Mesir. Di Indonesia, saudara ideologis AKP adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Faksi kedua adalah kelompok nasionalis. Kelompok ini mengidolakan Mustafa Kemal Attaturk, sehingga kerap disebut Kemalis. Mereka ingin Turki tetap menjadi negara sekuler. Faksi nasionalis punya banyak simpatisan di militer, rakyat sipil kota besar, serta kelompok-kelompok usaha.

Faksi ketiga adalah jaringan Islam modern Fetullah Gulen. Sang ulama yang mengasingkan diri ke Amerika Serikat sejak 1999 ini, oleh banyak rakyat Turki diyakini agen CIA. Dia dekat dengan banyak pejabat militer maupun petinggi birokrasi, baik yang sekuler maupun Islamis.

Ketika Gulen masih menjadi penasehat politik Erdogan, AKP sempat membiarkan banyak simpatisan Gulen mencari kader dari militer, universitas, hingga kantor-kantor pemerintahan. Hubungan Gulen-Erdogan retak pada 2013.

Cook cenderung sepakat bahwa Gulen memang aktor di balik upaya kudeta. Kendati demikian, AKP dan Erdogan tidak sepenuhnya bebas dari dosa. “Loyalis Gulen menuai karma setelah satu dekade lalu ‘membersihkan’ unsur militer untuk diisi kader-kader mereka,” tulis surat kabar the Independent.

Data-data AKP berhasil diretas oleh Wikileaks seminggu sebelum terjadi kudeta pada Jumat (15/7) lalu. Awalnya dokumen tersebut akan dirilis beberapa bulan lagi. Belakangan situs pimpinan Julian Assange itu mempercepat jadwal rilis karena Rezim Erdogan menangkap ribuan orang yang diduga terlibat kudeta.

“Kami melihat kudeta serta seluruh kejadian yang menyusul di belakangnya merupakan hasil pertikaian faksi-faksi politik di Turki. Kami ingin menunjukkan data yang sebenar-benarnya,” kata Wikileaks. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment