Yusuf Muhammad: Propaganda Sesat Sosial Media, Mengakibatkan Kerusuhan di Tanjung Balai

provokasi

Minggu, 31 Juli 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, SURABAYA – Kasus kerusuhan SARA yang terjadi di Tanjung Balai merupakan tamparan hebat bagi persatuan dan kerukunan berbangsa, lagi-lagi kelompok radikal dan anti Nasionalisme di media sosial ataupun media mereka yang menjadi pemicu gaduhnya anak negeri, salah atu penulis muda Yusuf Muhammad membuat sebuah tulisan yang bagus tentang apa latar belakang pemicu kerusuhan ini, simak tulisannya:

KERUSUHAN TANJUNGBALAI BUKTI PROPAGANDA SESAT DI “SOCIAL MEDIA”

Sebelumnya, (26/7) saya telah menulis tentang “Waspada Virus Radikalisme di Sosial Media” dan ternyata baru selang waktu dua hari, virus itu terbukti telah meracuni mereka yang ‘mabok agama’.

Pemahaman agama masih sebatas kulit serta lebih mengedepankan kekerasan, tapi kaum “pemabuk agama” seakan sudah sok jadi pembela Tuhan yang paling benar. Kekerasan pun seakan dianggap selalu jadi jalan keluar.

Amarah pun meledak! (Baca juga: Sumanto Al Qurtuby: Radikalisme Berkembang Karena Kaum Intelek-Moderat ‘Ngumpet’)

Berawal dari seorang ibu keturunan Thionghoa yang mengeluh karena suara adzan, si ibu mendatangi imam masjid dan menyampaikan keluhanya. Kejadian itu pun disebar melalui media sosial dan dijadikan propaganda utk mengadu domba antar umat beragama.

Kelompok “unyu-unyu” dan ”pemabuk agama” akhirnya terpengaruh dan melancarkan aksinya.

Mereka melakukan aksi pembakaran Vihara, Kelenteng, mobil, serta speda motor. Pengaruh cepat media sosial seakan menjadi bukti, bahwa dalam beragama mereka lebih dominan sifat emosionalnya daripada spritualnya.

Mungkin ibu yang menyampaikan keluhan atas suara adzan kepada imam masjid salah. Cara penyampaianya yang salah atau secara substansi memang si ibu itu salah. Namun mengapa rumah ibadah yang jadi sasaran pembakaran? (Baca juga: Inilah Kronologi Sebenarnya Kasus Kerusuhan Tanjung Balai Asahan)

Jika dalam sejarah peperangan saja umat islam dilarang menghancurkan rumah-rumah ibadah agama lain, lantas mengapa baru menghadapi keluhan seorang ibu atas suara adzan saja langsung melakukan aksi pembakaran rumah ibadah?

Wahai kaum ‘mabuk agama’, sesungghnya ajaran siapa yang kalian jadikan pedoman?

Apakah seperti itu Rasulullah SAW mengajarkan kalian? Tidak! Tidak! Sama sekali. Itu sangat jauh dari ajaran para nabi. Sangat disayangkan kalian justru mempercayai info provokatif dan hoax di media sosial. Akhirnya kerusuhan pun tak dapat dihindarkan. (Baca juga: Gus Mus: Nabi Tak Pernah Ikutkan ‘Nafsunya’ Dalam Bela Agama)

Dalam islam diajarkan “tabayyun”, mengapa tidak dijadikan pedoman? Apakah dengan membakar rumah ibadah lain lantas Allah akan bangga terhadap kalian? Tidak! Justru Allah akan murka.

Kadang lelah juga mengedukasi saudara seiman. Saat diingatkan, justru disangkanya saya memojokkan dan menjelekkan nama islam, padahal sejatinya yang jelek itu bukan islamnya melainkan kaum “unyu-unyu” suka mengeluarkan ‘jurus mabuknya’.

Kaum “unyu-unyu” memang mudah tersulut emosi akibat propaganda yang dibalut oleh baju agama di “sosial media”, dan Lucunya setelah saya amati, ternyata rata-rata tindakan provokatif dan propaganda itu banyak di lapak sebelah. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment