Yusuf Muhammad: Tax Amnesty Bukti Kejeniusan Presiden Jokowi

tax-amnesty-jurus-jokowi.png

Rabu, 21 September 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, SURABAYA – Salah satu pengamat politik muda Yusuf Muhammad memberikan sebuah analisa menarik tentang Tax Amnesty dan kejeniusan Jokowi hadapi Singapura, berikut tulisannya yang diambil dari akun fanpage facebooknya,

Ketika awal-awal saya mengetahui program “Tax Amnesty” (pengampunan pajak) pemerintah, saya sempat heran dan kaget. “Kok aneh para pengemplang pajak bukannya dihukum malah dikasih ampun?” Pikir saya saat itu.

Akhirnya setelah mencoba mempelajarinya, saya pun menemukan jawabanya.

Mungkin bagi sebagian kalangan yang “tuna nalar” akan berpandangan negatif terhadap program “Tax Amnesty” (TA) pemerintahan Jokowi. Dengan “nafsu supernya” mereka-pun langsung menghujat dan menolak program TA pemerintah. Padahal program TA dapat dikatakan sebagai “Win-win solution” antara pemerintah dengan para pengusaha (pelaku wajib pajak).

Namun demikian, hal tersebut diperlukan kepercayaan dan komitmen yang kuat. Maka dari itu dibuatlah payung hukumnya melalui inisiatif pemerintah dan selanjutnya diajukan ke DPR RI. Meskipun sebelumnya sempat ada perdebatan, namun melalui sidang putusan Paripurna DPR RI akhirnya telah mengetok palu alias mengesahkan UU Tax Amnesty, pada selasa 28/6/16. (Baca juga: Telpon “Maut” Sri Mulyani kepada Pemerintah Singapura Tentang Tax Amnesty)

Sekedar info, di era kepemimpinan SBY sebelumnya juga pernah mewacanakan tentang RUU “Tax Amnesty”, namun banyak keraguan hingga saat SBY lengser dari akhir masa jabatanya RUU tersebut tak kunjung terealisasi. Ah sudahlah lupakan sang ‘mantan’ dan fokus ke depan.

Di era pemerintah sekarang kita telah ditunjukkan bukti tekhnik komunikasi negosiasi dari kepemimpinan jenius seperti yang diterapkan oleh Jokowi, ia seakan selalu mampu menempatkan dalam posisi menang tanpa harus menginjak sang lawan. (Baca juga: Perang Cerdas Ala Jokowi)

Melalui program TA, kita dapat melihat kejeniusan seorang Jokowi.

Dana ribuan triliun yang sejak puluhan tahun (sejak th 80-an) terparkir di luar negeri akhirnya akan di ‘paksa’ masuk ke dalam negeri. Caranya pun cukup elegan, dan tidak arogan. “Kamu saya kasih ampun, tapi syaratnya ikut Tax Amnesty dengan batas yang telah ditentukan, kalau tidak kamu akan saya kejar dan pidanakan.”

“Booommmm..” Terbukti menjelang akhir pada periode pertama bulan September, para pengusaha kelas kakap seperti Tommy Soeharto, Erick Thohir beserta saudaranya Boy Thohir dan lainya berduyun-duyun mendatangai kantor pajak untuk mengikuti TA. Tercatat sejak, Senin 19/9 malam pukul 19.55 WIB harta yang dideklarasikan berdasarkan Surat Pernyataan Harta (SPH) mencapai Rp 1.011 triliun.

Lihat saja betapa Singapura sudah mulai lemas dan ‘kebakaran jenggot’, sejak program TA diterapkan Singapura seakan ketakutan dan berjalan di dua mata kaki. Jika pihak pemerintahannya mengatakan tidak akan mempersulit WNI yang akan mengikuti TA, namun dilain sisi pihak perbankan Singapura diduga mempersulit WNI yang akan mengikuti TA. (Baca juga: Denny Siregar: Tax Amnesty Senjata Ampuh Terbaru Jokowi Sikat Penilap Pajak)

Memang kalau saya nilai Singapura ini negara kecil, tapi ‘bandel’ nya mintak ampun.

Namun tampaknya Singapura sudah mulai tak berdaya menghadapi Jokowi. Singapura sendiri pernah menyatakan bahwa menghindari pajak adalah sebuah bentuk pelanggaran, namun dilain sisi kini mereka harus menelan ‘pil pahit’ atas kebijakan Tax Amnesty Jokowi.

Sekedar info, diketahui ada sekitar 250 miliyar dollar AS dana WNI yang disimpan di Singapura. Bayangkan saja kalau uang sebanyak itu perlahan mulai terkuras, ya tentu akan berdampak buruklah. Jadi wajar jika ada pihak di Singapura yang mempersulit, lah wong mereka tahu ‘nyawanya’ terancam. Mau nolak gak bisa, gak ditolak juga mengancam ‘nyawa’ perekonomianya, kan serba sulit jadinya.

Kini mau tidak mau, dana segar milik WNI yang disimpan di Singapura dan negara lain perlahan akan berduyun-duyun ‘terinjeksi’ masuk ke Indonesia, dan hal tersebut tentu akan dapat menopang lebih kuat lagi perekonomian di Indonesia. Inilah yang dinamakan kerja cerdas dan nyata, bukan hanya sekedar wacana atau retorika. (voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment