Zelmay Khalilzad: Pejabat Senior Saudi Akui Riyadh Danai Terorisme Sejak 1960-an

zalmay-khalilzad

VOA-ISLAMNEWS.COM, RIYADH – Mantan Duta Besar AS untuk Irak, Zalmay Khalilzad mengungkapkan bahwa seorang pejabat senior Saudi, baru-baru ini mengakui bahwa ia telah mendukung kelompok-kelompok ektrimis dan teroris dukungan Riyadh sejak tahun 1960-an. (Baca: Moallem: Turki dan Saudi Sejak Lama Dukung Terorisme)

Khalilzad menambahkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Politico Magazine, yang kutip kantor berita al-Maloomah bahwa “Saat kunjungan terakhir saya ke Arab Saudi, saya disambut dengan pengakuan yang mengejutkan. Di masa lalu ketika kami mengangkat isu pendanaan ekstrimis Islam oleh Arab Saudi, semua yang kami  terima adalah pengingkaran. Kali ini dalam pertemuan dengan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef dan Wakil Putra Mahkota Muhammad bin Salman serta beberapa menteri, tiba-tiba seorang pejabat senior Saudi mengakui hal ini dan berkata kepadaku, “Kami telah menyesatkan kalian”. (Baca: BBC: Saudi Ajak Teroris Al Qaeda Serang Yaman)

Khalilzad juga menambahkan, “Dia menjelaskan kepadaku bagaimana dukungan Arab Saudi kepada aksi ekstrimisme Islam yang dimulai sejak tahun 1960-an dalam menghadapi Nasiriyyah, sebuah ideologi sosial politik yang muncul dari pemikiran Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, yang mengancam Arab Saudi dan menyebabkan perang antar kedua belah pihak di perbatasan Yaman”. (Baca: Ben Rhodes: Teroris Al-Qaeda Didanai Khusus Oleh Kerajaan Arab Saudi)

Khalilzad mengatakan, “Taktik ini memberikan mereka kesuksesan dalam mengumpulkan Nasiriyyah dan membebaskan Saudi, sehingga Islamisasai dapat dijadikan senjata yang ampuh dan lebih bermanfaat”.

Diplomat Amerika yang kontroversial mengatakan bahwa, “Kepemimpinan Saudi menjelaskan kepada saya bagaimana dukungan Saudi terhadap ekstrimisme menjadi cara untuk menghadapi Uni Soviet yang sering bekerja sama dengan Amerika, di tempat-tempat seperti Afganistan pada 1980-an. Dalam konteks ini juga terbukti mereka sukses dengan taktik mereka, yang kemudian mereka menggunakan taktik ini untuk melawan Iran di bawah persaingan geopolitik kedua negara”. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment